Jumat, 5 Juni 2026

Berita Belitung

Belitung Batalkan Wacana Perobohan Bangunan Eks Sekolah Kuomintang

Pemerintah Kabupaten Belitung, Kepulauan Bangka Belitung, akhirnya membatalkan wacana perobohan sisa bangunan eks Sekolah Kuomintang

Tayang:
Editor: suhendri
posbelitung.co/Dede Suhendar
TINJAU EKS SEKOLAH KUOMINTANG - Wakil Bupati Belitung Syamsir bersama rombongan meninjau sisa bangunan eks Sekolah Kuomintang di Jalan Sriwijaya, Kecamatan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, Senin (5/1/2026). Pemerintah Kabupaten Belitung akhirnya membatalkan wacana perobohan sisa bangunan tersebut. Syamsir lebih memilih mengolaborasikan sisa bangunan bersejarah itu dengan gedung Belitung Mampau Food Court. 

TANJUNGPANDAN, BABEL NEWS - Pemerintah Kabupaten Belitung, Kepulauan Bangka Belitung, akhirnya membatalkan wacana perobohan sisa bangunan eks Sekolah Kuomintang yang terletak di Jalan Sriwijaya, Kecamatan Tanjungpandan.

Wakil Bupati Belitung Syamsir lebih memilih mengolaborasikan sisa bangunan bersejarah tersebut dengan gedung Belitung Mampau Food Court. 

Demi menyelaraskan desain, Syamsir mengajak organisasi perangkat daerah (OPD) dan bersama tim ahli cagar budaya (TACB) kabupaten meninjau langsung ke lapangan, Senin (5/1/2026).

"Kita kolaborasikan agar tampilannya lebih bagus. Kami tetap mendengarkan saran dan masukan dari berbagai pihak," kata Syamsir.

Saat melakukan peninjauan, Syamsir bersama rombongan dinas pendidikan dan kebudayaan, dinas UMKM, perdagangan dan tenaga kerja, serta TACB kabupaten sempat berkeliling di bangunan eks Sekolah Kuomintang

Berdasarkan hasil diskusi, jarak antara dinding sejarah dengan bagian depan Mampau akan ditata lebih rapi.

Dengan demikian, jarak tersebut bisa dimanfaatkan menjadi area pengunjung dan lebih aman untuk anak-anak bermain. 

Satu ruangan di belakang dinding eks Sekolah Kuomintang juga akan dirapikan dan dibuat penahan agar beton lebih kokoh.

"Nanti lantainya akan dipasang keramik, jadi lebih rapi dan bersih. Tidak ada lagi air menggenang di sini," ujar Syamsir.

Sementara itu, di bagian depan bangunan akan dipasang tulisan eks Sekolah Kuomintang dan Belitung Mampau Food Court.

Selain itu akan ditambah tembakan lampu dari dua sudut sehingga tampilannya lebih terang dan bersih. 

"Jadi di depan bisa dipakai untuk pengunjung nongkrong juga. Nanti dipasang lampu tembak seperti di bundaran," kata Syamsir.

Akan tetapi, sebelum rencana tersebut direalisasikan, Syamsir meminta OPD terkait dan TACB kabupaten membuat kajian dari sisi sejarah dan bisnis agar lebih berimbang. 

"Nanti kita lihat hasil kajiannya seperti apa, baru kita mulai penataan," ucap Syamsir

Pro dan kontra

Sebelumnya diberitakan, sisa bangunan eks Sekolah Kuomintang di Jalan Sriwijaya, Kecamatan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, kembali menjadi sorotan.

Wacana perobohan struktur bangunan tua yang berada tepat di depan Belitung Mampau Food Court itu memantik pro dan kontra di tengah masyarakat.

Wacana perobohan bangunan eks Sekolah Kuomintang menuai pro dan kontra warganet.

Sisa bangunan berdinding putih itu dianggap menutupi gedung Belitung Mampau Food Court yang menjadi pusat UMKM di Belitung

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Belitung, Fithrorozi, menegaskan, bangunan eks Sekolah Kuomintang berstatus objek diduga cagar budaya (ODCB). 

"Sebenarnya itu baru diduga dan belum masuk daftar objek cagar budaya. Jadi baru dalam tahap awal," kata Fithrorozi, Minggu (4/1/2026). 

Dia menjelaskan, bangunan cagar budaya sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010.

Menurutnya, undang-undang tersebut disusun dengan semangat cagar budaya dapat menyejahterakan masyarakat. 

Di dalamnya definisikan cagar budaya terdapat struktur, objek, dan lokasi.

"Pada komponen itu, mungkin yang lebih tepatnya adalah struktur untuk eks Sekolah Kuomintang," ujar Fithrorozi

Bidang kebudayaan sendiri, lanjut dia, tetap akan memfasilitasi aspirasi berbagai pihak, termasuk pada eks Sekolah Kuomintang yang saat ini memiliki dua versi pemanfaatan antara mempertahankan atau membongkar. 

"Tetapi apa pun keputusannya, kita tetap mengacu pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010. Jadi bagaimana nanti pemanfaatannya, jangan sampai melenceng dari koridor aturan," tuturnya. 

Bisa jadi daya tarik

Wakil Bupati Belitung periode 2018-2023, Isyak Meirobie, menilai, sisa bangunan eks Sekolah Kuomintang memiliki nilai strategis dan historis.

Di banyak negara maupun daerah lain, kata Isyak, bangunan bersejarah justru dilestarikan dan dijadikan daya tarik wisata.

Dia mencontohkan, kawasan Jonker Street di Malaka, Malaysia, hingga Kota Tua di Jakarta dan Semarang, yang kini menjadi magnet wisata karena mampu merawat jejak sejarahnya.

“Negara lain berlomba-lomba melestarikan bangunan yang memiliki nilai sejarah. Di dalam negeri pun banyak contoh kota tua yang justru hidup karena sejarahnya,” ujar Isyak saat dihubungi Pos Belitung pada Jumat (2/1/2026). 

Menurutnya, sejak awal pendirian gedung Belitung Mampau Food Court, keberadaan sisa bangunan eks Sekolah Kuomintang sudah dipandang sebagai jejak sejarah pendidikan di Belitung yang layak dipertahankan.

“Itu memang hanya puing arsitektur, tetapi sekalipun sedikit, ia bisa bercerita bagi masa sekarang dan masa depan tentang perjalanan sejarah sebuah daerah dan bangsa,” tutur Isyak.

Karena itu, lanjut dia, saat itu diputuskan untuk mempertahankan bagian depan bangunan eks Sekolah Kuomintang yang tersisa, mengingat tidak ada lagi bagian lain yang bisa diselamatkan.

Isyak justru melihat keberadaan sisa bangun eks Sekolah Kuomintang sebagai tantangan sekaligus peluang, bukan justru menjadi penghalang bagi keberlangsungan Belitung Mampau Food Court. 

“Menurut saya, justru ini tantangannya. Ini bisa menjadi daya tarik yang tidak dimiliki daerah lain. Eks sekolah Kuomintang ini hanya ada di Belitung dengan bentuk seperti itu,” katanya.

Isyak menilai pelestarian bangunan tersebut bisa menjadi nilai jual unik atau keunggulan khas (selling point) bagi Belitung Mampau Food Court.

Soal kondisi food court yang kerap dinilai sepi, Isyak menegaskan hal itu bukan disebabkan oleh bangunan bersejarah tersebut.

Menurutnya, persoalan utama ada pada pasar dan karakter konsumen.

“Jumlah penduduk Belitung relatif tidak banyak berubah, wisatawan juga tidak terlalu banyak. Jadi wajar kalau sepi. Letaknya justru sudah sangat strategis,” ujar Isyak.

Dia menambahkan, banyak pusat kuliner di lokasi yang lebih terpencil justru bisa ramai. Bahkan, bazar yang digelar di terminal, pantai, atau lahan kosong sering kali dipadati pengunjung.

“Kenapa bisa ramai? Karena konsumen UMKM Belitung itu tipikalnya FOMO,” ujarnya.

Isyak menjelaskan, Fear of Missing Out (FOMO) adalah rasa takut ketinggalan tren atau pengalaman yang sedang ramai diperbincangkan, terutama yang dipicu oleh media sosial.

“Kalau ada event, viral, atau ramai dibicarakan, pasti orang datang. Jadi bukan soal bangunannya, tetapi bagaimana mengelola dan menghidupkan aktivitasnya,” tuturnya. (dol)

Sumber: Bangka Pos
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved