Sabtu, 6 Juni 2026

Berita Belitung Timur

Program SOLUSI Dorong Konservasi di Belitung Timur

Upaya penguatan konservasi satwa endemik dan ekosistem pesisir mulai digencarkan di Kabupaten Belitung Timur.

Tayang:
Istimewa/ dok Yayasan Tarsius Center Indonesia
SERAHKAN DOKUMEN -- Ketua Yayasan Tarsius Center Indonesia Budi Setiawan menyerahkan dokumen Program SOLUSI kepda tiga desa di Kabupaten Belitung Timur pada Sabtu (24/1/2026). 

MANGGAR, BABEL NEWS - Upaya penguatan konservasi satwa endemik dan ekosistem pesisir mulai digencarkan di Kabupaten Belitung Timur melalui program Pengelolaan Lanskap Darat dan Laut (SOLUSI). Program ini ditandai dengan penyerahan dokumen perencanaan kepada tiga desa, yakni Desa Simpang Tiga, Desa Lintang, dan Desa Gantung, Sabtu (24/1).

Dokumen tersebut diserahkan oleh Yayasan Tarsius Center Indonesia (YTCI) sebagai bagian dari implementasi program SOLUSI, hasil kemitraan antara Pemerintah Indonesia melalui Bappenas dan Pemerintah Jerman melalui BMUKN-IKI, yang dijalankan oleh konsorsium lembaga internasional dan nasional.

Program Manager SOLUSI YTCI, Ade Afrilian Saputra mengatakan, Belitung Timur memiliki potensi keanekaragaman hayati yang kuat, sehingga pendekatan konservasi menjadi salah satu fokus utama program di wilayah tersebut.

"Implementasi program SOLUSI di Belitung Timur kami arahkan dengan pendekatan yang menyesuaikan potensi dan tantangan masing-masing desa, terutama dalam penguatan konservasi lingkungan," ujar Ade Afrilian Saputra.

Di Desa Lintang, yang berada di kawasan Sungai Lenggang, program difokuskan pada pengembangan keanekaragaman hayati. YTCI telah melakukan penanaman 16 jenis tanaman lokal sebagai langkah awal memperkuat ekosistem desa. Selain itu, Desa Lintang juga diproyeksikan menjadi kawasan konservasi satwa endemik, seperti tarsius dan lutung putih, yang selama ini masih ditemukan di wilayah tersebut.

"Potensi satwa endemik di Desa Lintang sangat kuat. Karena itu, kami juga mengintegrasikan konservasi alam dengan kearifan lokal melalui kerja sama bersama komunitas Tebat Rasau dan Gubok Tuk Layang," jelasnya.

Sementara itu, di Desa Gantung yang merupakan wilayah pesisir, fokus utama program SOLUSI diarahkan pada penguatan ekosistem mangrove. Hingga saat ini, YTCI telah melakukan pembibitan sekitar 18.750 bibit mangrove yang ditempatkan di area demplot dan masih dalam tahap perawatan.

Menurut Ade Afrilian Saputra, penguatan mangrove penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem pesisir sekaligus melindungi wilayah desa dari ancaman abrasi dan perubahan iklim.

Adapun di Desa Simpang Tiga, program konservasi dipadukan dengan pengembangan ekowisata dan pengelolaan sampah desa. Langkah ini diambil sebagai antisipasi meningkatnya aktivitas dan jumlah penduduk di wilayah tersebut, termasuk rencana kehadiran satu batalyon dengan sekitar 1.000 personel.

"Konservasi tidak berdiri sendiri, tapi harus berjalan seiring dengan pengelolaan lingkungan dan peningkatan ekonomi masyarakat," katanya.

Ade Afrilian Saputra menambahkan, tahun 2025 menjadi fase penyusunan dokumen dan perencanaan, sementara tahun 2026 akan difokuskan pada implementasi langsung di lapangan. Selanjutnya, pada periode 2027-2028, program SOLUSI diarahkan untuk memastikan keberlanjutan serta dampak jangka panjang bagi lingkungan dan masyarakat Belitung Timur(dol)

Sumber: Bangka Pos
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved