Sabtu, 6 Juni 2026

Berita Bangka Selatan

Banjir hingga Puting Beliung Intai Bangka Selatan 

Bangka Selatan tercatat sebagai salah satu daerah dengan indeks risiko bencana alam tertinggi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Tayang:
Editor: suhendri
Dokumentasi
BANJIR DI TEPUS - Banjir ketika melanda perkampungan warga di Kampung Ketiak Ulu, Dusun 04 Bukit Berbulu, Desa Tepus, Kecamatan Airgegas, Jumat (9/1/2025). Sedikitnya delapan bubung rumah terdampak banjir dengan ketinggian selutut orang dewasa. 

TOBOALI, BABEL NEWS – Kabupaten Bangka Selatan tercatat sebagai salah satu daerah dengan indeks risiko bencana alam tertinggi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Kondisi geografis Negeri Junjung Besaoh yang didominasi wilayah pesisir, rawa, serta perubahan fungsi lahan dinilai menjadi faktor utama tingginya potensi bencana, terutama banjir, banjir rob, abrasi pantai, dan angin puting beliung.

Kepala Bidang Penanggulangan Bencana dan Kebakaran Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran (Satpol PP dan Damkar) Kabupaten Bangka Selatan, Ardiansyah, menyampaikan, dalam beberapa tahun terakhir wilayah Bangka Selatan kerap dilanda bencana hidrometeorologi.

Dua jenis bencana yang paling sering terjadi adalah banjir dan angin puting beliung.

Kondisi ini menyebabkan Bangka Selatan ditetapkan menjadi daerah dengan risiko bencana alam tertinggi.

“Beberapa tahun ini Kabupaten Bangka Selatan merupakan daerah dengan indeks risiko bencana alam tertinggi, khususnya bencana banjir dan angin puting beliung,” kata Ardiansyah kepada Bangka Pos, Jumat (23/1/2026).

Dia mencontohkan kejadian banjir yang belum lama ini terjadi di Desa Tepus. Hujan yang turun dengan intensitas tinggi menyebabkan sejumlah rumah warga terendam.

Menurut Ardiansyah, bencana tersebut tidak semata-mata disebabkan faktor alam, tetapi juga dipicu oleh kerusakan lingkungan dan buruknya sistem aliran air.

Kerusakan lingkungan akibat alih fungsi lahan dan aktivitas pertambangan timah turut memperbesar risiko bencana alam di Kabupaten Bangka Selatan

Sejumlah kawasan yang sebelumnya berfungsi sebagai daerah resapan air kini berubah menjadi permukiman, perkebunan, maupun area pertambangan sehingga daya dukung lingkungan terus menurun.

Kondisi ini berdampak langsung pada meningkatnya potensi banjir, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi.

Aktivitas tambang timah, baik di darat maupun di wilayah pesisir, juga dinilai berkontribusi terhadap perubahan bentang alam. 

Pembukaan lahan dan penggalian tanah menyebabkan rusaknya sistem aliran air alami, sedimentasi sungai, serta pendangkalan saluran drainase.

Akibatnya, air hujan tidak dapat mengalir dengan optimal dan mudah meluap ke kawasan permukiman warga. 

Selain itu, kerusakan kawasan hutan dan rawa yang selama ini berperan sebagai penyangga ekologis makin memperparah kondisi.

Sumber: Bangka Pos
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved