Minggu, 7 Juni 2026

Berita Bangka Selatan

2025, Produksi Padi Bangka Selatan Capai 29.136 Ton

Produksi padi di Kabupaten Bangka Selatan dari Januari hingga 31 Desember 2025 mencapai 29.136 ton.

Tayang:
Bangkapos.com
PANEN PADI RIAS - Beberapa orang pekerja memanggul karung gabah hasil panen di area persawahan Desa Rias, Kabupaten Bangka Selatan, Minggu (8/2/2026). Hingga kini sudah 150 ton GKP diserap seiring berlangsungnya penyerapan gabah petani oleh mitra penggilingan Bulog. 

TOBOALI, BABEL NEWS - Produksi padi di Kabupaten Bangka Selatan dari Januari hingga 31 Desember 2025 mencapai 29.136 ton. Jumlah ini menurun dari 31.290 ton pada tahun 2024. Produksi berkurang sebanyak 2.154 ton yang setara dengan penurunan sekitar 6,9 persen.

"Memang jika bicara tentang year on year (YoY-Red) dari tahun 2024 ke tahun 2025 memang ada penurunan secara produksi," kata Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Bangka Selatan, Risvandika, Senin (23/2).

Menurutnya, penurunan produksi padi, lebih disebabkan oleh pergeseran musim tanam dan panen, bukan melemahnya produktivitas. Pada musim tanam indeks pertanaman (IP) 300 terjadi pergeseran musim tanam yang secara otomatis berpengaruh terhadap musim panen. 

Petani rata-rata mulai melakukan tanam IP 300 pada bulan November 2025, sehingga musim panen terjadi pada bulan Januari-Februari 2026. Dengan demikian hasil produksi IP 300 masuk ke dalam pendataan tahun 2026. Jika hasil panen Januari-Februari 2026 tersebut digabungkan, total produksi padi di Kabupaten Bangka Selatan melonjak signifikan. 

Risvandika menyebut, akumulasi produksi mencapai 37.545 ton, atau surplus sekitar 20 persen atau 6.255 ton dibandingkan produksi tahun 2024. Dengan demikian, kinerja sektor padi dinilai tetap positif dan bahkan mengalami peningkatan secara riil. "Jika ditambah dengan masa panen Januari sampai Februari 2026 memang surplus," jelas Risvandika.

Ia menjelaskan, hingga saat ini, sekitar 98 persen lahan sawah lebih dari 7.000 hektare, tersebut berhasil dipanen. Sisanya masih menghadapi kendala, terutama faktor cuaca ekstrem, keterbatasan infrastruktur pertanian, serta serangan hama dan penyakit tanaman. Sebaran sentra produksi padi tersebar di sejumlah kecamatan. Antara lain Kecamatan Toboali, Pulau Besar, Air Gegas, Tukak Sadai, Lepar, dan Pongok. 

Di wilayah-wilayah tersebut, sebagian besar petani menerapkan pola tanam intensif IP 300 dengan waktu tanam pada Oktober hingga November 2025. Konsekuensinya, masa panen bergeser ke Januari-Februari 2026. Kondisi ini sekaligus menjadi gambaran bahwa pencatatan produksi berbasis tahun kalender perlu dibaca secara lebih komprehensif. 

"Pergeseran musim akibat perubahan iklim membuat siklus tanam dan panen tidak selalu sejalan dengan batas administrasi tahunan," sebutnya.

Dengan capaian tersebut pemerintah daerah optimistis ketahanan pangan daerah tetap terjaga. Ke depan, dinas terkait akan mendorong perbaikan infrastruktur pertanian dan pengendalian hama, agar produktivitas tetap stabil meski di tengah tantangan cuaca yang semakin tidak menentu.

"Langkah ini agar keterlambatan musim tanam tidak lagi berdampak pada persepsi penurunan produksi," pungkas Risvandika(u1)

Sumber: Bangka Pos
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved