Jumat, 5 Juni 2026

Berita Belitung Timur

Inflasi Belitung Timur Tembus 3,00 Persen

Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Belitung Timur resmi merilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) atau inflasi untuk periode Februari 2026.

Tayang:
Dokumentasi
RILIS INFLASI -Statistisi Ahli Madya BPS Beltim, Fetia Nursih Widiastuti saat menyampaikan rilis inflasi Februari 2026 di kantor BPS Beltim, Senin (2/3). 

MANGGAR, BABEL NEWS - Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Belitung Timur resmi merilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) atau inflasi untuk periode Februari 2026. Hasilnya, Belitung Timur tercatat mengalami inflasi tahunan (year on year) sebesar 3,00 persen dengan Indeks Harga Konsumen sebesar 107,23. Data ini menjadi sinyal bagi Pemerintah Kabupaten Belitung Timur untuk memperketat pengawasan harga, terutama menjelang momen hari raya Idulfitri yang tinggal menghitung hari.

Statistisi Ahli Madya BPS Belitung Timur, Fetia Nursih Widiastuti menjelaskan, kenaikan inflasi ini dipicu oleh naiknya indeks di sejumlah kelompok pengeluaran. Kenaikan paling mencolok terjadi pada sektor kebutuhan dasar rumah tangga.

"Kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang mencapai 22,12 persen. Disusul oleh sektor perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 16,25 persen," ujar Fetia Nursih Widiastuti dalam rilis berita, Senin (2/3).

Tak hanya itu, sektor perut alias makanan, minuman, dan tembakau juga ikut merangkak naik sebesar 1,27 persen. Meski angka kenaikannya terlihat kecil, namun komoditas di sektor ini paling dirasakan dampaknya oleh masyarakat luas karena berkaitan dengan konsumsi harian.

Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Belitung Timur, Ikhwan Fahrozi menegaskan, data BPS ini akan menjadi kompas bagi pemerintah daerah dalam menentukan arah kebijakan ekonomi. "Data statistik ini landasan utama kami untuk membaca kondisi ekonomi dan menentukan langkah strategis dalam pengendalian inflasi agar stabilitas daerah tetap terjaga," kata Ikhwan.

Ikhwan juga menyoroti beberapa komoditas yang saat ini sedang mengalami tren kenaikan harga di pasar. Selain harga emas yang mempengaruhi pola konsumsi, bumbu dapur seperti bawang dan cabai mulai menjadi perhatian serius karena berkurangnya pasokan dari daerah luar.

"Kenaikan harga bawang dan cabai ini akibat hasil panen dari daerah pemasok berkurang. Namun, di sisi lain, kondisi cuaca yang mendukung membuat hasil tangkapan nelayan cukup baik, sehingga harga ikan relatif stabil," ucapnya.

Pihaknya juga memprediksi permintaan masyarakat terhadap kebutuhan pokok akan melonjak tajam, terutama untuk komoditas daging ayam dan daging sapi. Untuk itu, langkah antisipatif mulai disiapkan agar tidak terjadi lonjakan harga yang gila-gilaan.

"Kami memperkuat koordinasi TPID, pemantauan harga di pasar secara rutin, dan pelaksanaan operasi pasar murah. Tujuannya agar distribusi barang tetap lancar dan daya beli masyarakat tidak terganggu jelang lebaran nanti," ungkap Ikhwan. (*/z1)

Sumber: Bangka Pos
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved