Selasa, 5 Mei 2026

Berita Bangka Barat

BPS Rilis Data Resmi April 2026, Inflasi Bangka Barat Tertinggi se-Babel

Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bangka Barat merilis data inflasi perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK), Senin (4/5).

Tayang:
Bangkapos.com
RILIS BPS - Badan Pusat Statistik Kabupaten Bangka Barat saat merilis Berita Resmi Statistik (BRS) inflasi April 2026, Senin (4/5). 

MENTOK, BABEL NEWS - Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bangka Barat merilis data inflasi perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK), Senin (4/5). Pada kesempatan press release Berita Resmi Statistik (BRS) tersebut, dipaparkan kondisi inflasi Kabupaten Bangka Barat per data April 2026, baik data m-to-m (month-to-month), y-to-d (year-to-date) maupun y-on-y (year-on-year).

Kepala BPS Bangka Barat, M. Hendy Saputra menjelaskan, fenomena yang memengaruhi inflasi Bangka Barat 2025 dan 2026 (m-to-m & y-on-y). "Inflasi tahun ke tahun dan bulan ke bulan April 2026, keduanya lebih rendah dibanding bulan sebelumnya," jelas Hendy Saputra di ruang rapat BPS Bangka Barat.

Kemudian, laju inflasi mengalami pelemahan karena permintaan masyarakat kembali ke tingkat normal setelah mengalami lonjakan di momen hari raya Lebaran. Lalu, pengaruh kenaikan harga BBM non-subsidi dan harga plastik belum secara langsung tercermin di inflasi umum (m-to-m).

Hendy Saputra juga memaparkan kondisi inflasi m-to-m April 2026 terhadap Maret 2026 yang berada pada angka 0,42 persen. "Secara bulan ke bulan (m-to-m), Kabupaten Bangka Barat mengalami inflasi sebesar 0,42 persen, inflasi ini merupakan yang kedua tertinggi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung," ungkapnya.

Sementara itu, inflasi tertinggi secara m-to-m dialami oleh Kota Tanjungpandan sebesar 0,78 persen. Sedangkan inflasi terendah dialami oleh Kota Pangkalpinang sebesar 0,23 persen.

Kemudian, untuk inflasi April 2026 secara y-on-y atau April 2026 terhadap April 2025 yakni sebesar 2,29 persen. "Secara tahun ke tahun (y-on-y), Bangka Barat mengalami inflasi sebesar 2,29 persen, inflasi ini masih merupakan yang tertinggi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung," jelasnya.

Sementara itu, inflasi y-on-y terendah dialami oleh Pangkalpinang sebesar 1,41 persen. Dari empat kabupaten kota inflasi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, hanya Bangka Barat dan Belitung Timur yang inflasi-nya berada di rentang target (2,5±1 persen) inflasi nasional.

Menutup pemaparannya, Hendy Saputra meringkas data inflasi April 2026. Pada April 2026, terjadi inflasi m-to-m sebesar 0,42?n inflasi y-to-d sebesar 0,92 % . Sementara itu, inflasi y-on-y tercatat sebesar 2.29 % .

Penyumbang utama inflasi April 2026 secara m-to-m adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,23 % . Komoditas penyumbang utama inflasi m-to-m antara lain jeruk, sawi hijau, daging ayam ras, ikan tenggiri dan minyak goreng.

"Penyumbang utama inflasi April 2026 secara y-on-y adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil sebesar 1,55 % . Komoditas penyumbang utama inflasi y-on-y antara lain emas perhiasan, udang basah, daging ayam ras, jeruk, dan cumi-cumi," jelasnya.

Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Pemkab Bangka Barat, Heru Warsito turut menjelaskan kondisi ini. "Kita patut bersyukur, kondisi inflasi di Bangka Barat masih relatif terkendali karena masih dalam batasan rentang nasional," kata Heru Warsito.

Namun demikian, kata dia, masyarakat harus tetap waspada karena secara tahunan, harga-harga masih menunjukan kecenderuan meningkat. "Sehingga tekanan inflasi jangka panjang masih menghantui dan menjadi perhatian kita bersama," jelasnya.

Dirinya mengapresiasi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Bangka Barat, Polres Bangka Barat dan BPS Bangka Barat yang telah dan selalu bersinergi melakukan langkah nyata mengendalikan tekananan harga sehingga stabilitas harga terjaga dengan baik.

Kemudian, terdapat beberapa yang perlu jadi perhatian bersama yang ikut mempengaruhi inflasi di daerah. Salah satu contohnya, terjadi kenaikan harga gas elpiji 5,5 kg dan 12 kg yang menjadi salah satu faktor yang secara langsung meningkatkan biaya konsumsi rumah tangga dan biaya produksi pelaku usaha.

Di sisi lain, terdapat lonjakan bahan baku plastik yang berpotensi mendorong terjadinya kenaikan harga berbagai komoditas, khususnya yang menggunakan kemasan plastik. Kemudian, terjadi juga pelemahan nilai tukar rupiah yang saat ini Rp17 ribu lebih yang cukup tinggi nilainya. "Ini menjadi tekanan terhadap harga barang, terutama kompditas impor ataupun yang memiliki ketergantungan terhadap bahan-bahan impor," ujarnya.

Sumber: Bangka Pos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved