Sabtu, 30 Mei 2026

Berita Bangka Selatan

Harga Sawit di Bangka Selatan Merosot Tajam, Petani Kehilangan Semangat Panen

Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kabupaten Bangka Selatan kembali mengalami penurunan drastis hingga Sabtu (23/5).

Tayang:
Dok Bangka Pos
Petani mengumpulkan tanda buah segar (TBS) kelapa sawit yang baru selesai dipanen. 

TOBOALI, BABEL NEWS - Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kabupaten Bangka Selatan kembali mengalami penurunan drastis hingga Sabtu (23/5). Setelah sempat menyentuh Rp3.070 per kilogram beberapa hari lalu, harga sawit di tingkat petani kini hanya berada di kisaran Rp1.854 hingga Rp1.954 per kilogram. Kondisi tersebut membuat petani semakin tertekan karena pendapatan mereka turun tajam dalam waktu singkat.

Petani sawit asal Toboali, Yasir (47), mengaku penurunan harga yang terjadi secara berturut-turut membuat para petani kehilangan semangat untuk memanen hasil kebun. Dalam beberapa hari terakhir, harga sawit turun dari Rp3.070 menjadi Rp2.970, kemudian merosot lagi ke Rp2.770 hingga Rp2.350 per kilogram. Sementara hingga Sabtu (23/5) harga kelapa sawit di tingkat pabrik kembali turun menjadi Rp2.200 per kilogram. "Tentunya kami selaku petani lesu dengan harga segitu," ujar Yasir, Minggu (24/5).

Menurut Yasir, kondisi petani semakin sulit karena anjloknya harga jual sawit tidak diiringi dengan penurunan biaya produksi, terutama harga pupuk yang masih tinggi di pasaran. Petani harus mengeluarkan modal besar untuk perawatan kebun, sementara hasil penjualan sawit terus menyusut dari hari ke hari. Situasi tersebut membuat keuntungan petani hampir tidak sebanding dengan biaya operasional yang dikeluarkan.

Dirinya meminta pemerintah daerah melalui dinas terkait segera turun tangan mencari penyebab anjloknya harga sawit di Bangka Selatan. "Kami sangat berharap kepada dinas terkait untuk segera mencari solusi atas masalah ini," ucap Yasir.

Keluhan serupa juga disampaikan petani lainnya, Sunder (49). Ia mengaku bingung dengan penurunan harga sawit yang terjadi secara drastis dalam beberapa hari terakhir. 

Ia menilai kondisi tersebut membuat petani berada dalam tekanan ekonomi karena penghasilan terus menurun di tengah kebutuhan hidup yang tidak berkurang. Selain itu, biaya perawatan kebun tetap harus dipenuhi agar tanaman sawit tetap produktif. "Dengan harga ini petani sawit sangat tertekan," kata Sunder.

Dirinya tidak mengetahui secara pasti penyebab anjloknya harga TBS sawit di tingkat petani. Penurunan harga yang terjadi begitu cepat membuat para petani hanya bisa pasrah karena tidak memiliki informasi jelas terkait kondisi pasar maupun kebijakan penjualan sawit

Sunder berharap ada penjelasan terbuka dari pihak terkait agar masyarakat tidak terus bertanya-tanya mengenai penyebab turunnya harga tersebut. "Saya tidak tahu apa yang menjadi penyebab menurunnya harga sawit sampai anjlok begini turun hingga Rp1.000 per kilogram," pungkasnya. 

Cari solusi
Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan bergerak cepat menyikapi kondisi ini. Pemerintah daerah mulai menelusuri penyebab turunnya harga sawit dengan berkoordinasi bersama pihak pabrik Crude Palm Oil (CPO) dan pemerintah provinsi.

Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Bangka Selatan, Risvandika, mengatakan, pemerintah daerah tidak tinggal diam menghadapi kondisi yang dikeluhkan para petani sawit tersebut. Saat ini pihaknya masih mengumpulkan informasi dari sejumlah pabrik kelapa sawit terkait faktor penyebab penurunan harga yang terjadi secara cepat dalam beberapa hari terakhir. 

Selain itu, koordinasi lintas sektor juga dilakukan bersama pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung guna mencari solusi terbaik bagi para petani. "Kami saat ini sedang koordinasi dengan pihak provinsi untuk mencari solusi hal ini," ujar Risvandika, Minggu (24/5).

Selain melakukan koordinasi dengan pihak pabrik dan pemerintah provinsi, Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Bangka Selatan akan mengumpulkan data lapangan terkait kondisi penjualan sawit di tingkat petani. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan informasi yang diterima pemerintah sesuai dengan kondisi riil yang terjadi di masyarakat. 

Pemerintah daerah berharap adanya komunikasi yang baik antara seluruh pihak sehingga stabilitas harga sawit dapat segera kembali normal. "Mudah-mudahan harga jual beli sawit bisa kembali stabil sesuai harapan masyarakat," sebutnya.

Dengan adanya permasalahan ini, Risvandika meminta masyarakat tetap tenang selama proses pengumpulan informasi dan koordinasi masih berjalan. Pemerintah ingin memastikan langkah penanganan dilakukan secara menyeluruh bersama pihak terkait agar stabilitas harga sawit dapat segera dipulihkan.

"Kami berharap stabilitas harga TBS sawit di Bangka Selatan dapat segera dipulihkan ke angka yang normal," kata Risvandika(u1)

Sumber: Bangka Pos
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved