Detik-detik Warga Permis Diterkam Buaya Saat Mukat, Hakim Minta Tolong Saat Diseret ke Tengah Laut

Detik-detik Warga Permis Diterkam Buaya Saat Mukat, Hakim Minta Tolong Saat Diseret ke Tengah Laut

Editor: Teddy Malaka
Gambar oleh TeeFarm dari Pixabay
Ilustrasi buaya -3 

Bahkan, diperkirakan ada satu buaya hitam yang memiliki bobot dan panjang hingga mencapai delapan meter.

Hal ini disampaikan Kepala Desa Sebagin, Darno pasca-penyerangan buaya terhadap warganya saat memukat di perairan tersebut, Jumat, (2/10/2020).

"Iya kemungkinan delapan meter panjangnya dan berwarna hitam, itu yang paling besar dan selebihnya masih buaya-buaya yang berukuran kecil," ujar Darno.

Darno belum dapat menyimpulkan dari mana asal buaya ini.

Ia juga tak dapat memastikan berapa banyak. Namun dipastikannya, tak begitu banyak.

"Kalau populasinya tidak begitu banyak, palingan ada tiga sampai lima buaya," katanya.

Buaya ompong seberat 500 Kg ditangkap di Sungai Kayubesi Kecamatan Puding Besar Bangka. Tampak Kades Rasyid dan warga menonton predator ganas itu Selasa (4/8/2020)
Buaya ompong seberat 500 Kg ditangkap di Sungai Kayubesi Kecamatan Puding Besar Bangka. Tampak Kades Rasyid dan warga menonton predator ganas itu Selasa (4/8/2020) (bangkapos.com/ ferylaskari)

Karena diakuinya, memang perairan Desa Sebagin cukup luas bahkan berbatasan langsung dengan Sumatera Selatan.

Pihaknya pun kerap meminta bantuan pawang buaya ataupun orang yang dianggap mampu untuk mengetahui letak buaya tersebut.

"Kami juga sering mencari orang pintar untuk menangkap buaya ini namun belum ada hasilnya," jelasnya.

Sudah 73 Kasus Konflik Manusia dengan Buaya di Babel

Dikutip dari situs mongabay.co.id, berdasarkan data BKSDA Sumatera Selatan Wilayah Bangka Belitung, angka konflik buaya dengan manusia di Bangka Belitung dari 2016 hingga 24 Agustus 2020 saja mencapai 72 kasus.

Sebanyak 13 orang meninggal dunia.

“Saya menduga aktivitas tambang timah mejadi penyumbang terbesar kerusakan sungai, tetapi perlu dibuktikan kajian lebih lanjut. Hal inilah yang kemudian menjadi penyebab, antara manusia dan buaya tidak ada lagi jarak, karena habitat dirusak, buaya akan mencari tempat yang masih baik, yang kemudian bisa menyebabkan konflik,” kata Septian Wiguna, Kepala Resort Konserasi Wilayah Bangka, BKSDA Sumatera Selatan.

Hingga saat ini, belum ada angka pasti terkait jumlah populasi buaya muara di Pulau Bangka.

Halaman
1234
Sumber: Bangka Pos
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved