Berita Bangka Barat

2022, Ada 558 Kasus Stunting, Bupati Bangka Barat Bentuk TPPS

Pemerintah Kabupaten Bangka Barat melaporkan ada 558 kasus stunting yang ada di wilayahnya sepanjang tahun 2022.

Bangka Pos/Rizky Irianda Pahlevy
PENGUKUHAN - Bupati Babar, Sukirman saat melakukan pengukuhan TPPS di Ruang OR 1 Pemkab Babar, Kamis (19/5). 

MUNTOK, BABEL NEWS - Pemerintah Kabupaten Bangka Barat melaporkan ada 558 kasus stunting yang ada di wilayahnya sepanjang tahun 2022. Jumlah ini tersebar di dua kecamatan yaitu Kecamatan Kelapa, dan terbanyak ditemukan di Kecamatan Simpangteritip.

Diketahui, stunting adalah kondisi tubuh dengan indikasi tubuh lebih pendek dibandingkan teman seusianya. Pertumbuhan melambat yang berdampak pada gangguan metabolisme. Hal ini pun diukur dari perbandingan tinggi badan dengan usia, serta disebabkan kekurangan gizi dalam jangka panjang terutama 1.000 hari kelahiran pertama.

Untuk mengatasi masalah ini, Bupati Babar, Sukirman membentuk Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) di Ruang OR 1 Pemkab Babar, Kamis (19/5). "Ini menjadi salah satu cara dalam mewujudkan masyarakat Bangka Barat yang maju, sejahtera dan bermartabat. Diperlukan komitmen dan kerja sama secara terencana, menyeluruh dan berkelanjutan dari semua pihak," ujar Sukirman.

Diakuinya, penurunan stunting juga masuk dalam fokus Pemkab Babar. Bahkan, sudah tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). "Korelasinya dengan percepatan penurunan stunting adalah karena prevelensi stunting, menjadi salah satu indikator sasaran yang harus dicapai. Kondisi baseline di tahun 2020 sebesar 12,38 persen dan direncanakan, menjadi sebesar 4,79 persen pada kondisi akhir RPJMD," katanya.

Sebelumnya diketahui, berdasarkan realisasi RPJMD tahun 2021, terkait prevelensi stunting sebesar 11,10 persen. "Ke depan persentase di setiap tahunnya akan terus dipantau dan tentunya, dengan upaya maksimal yang dilakukan bersama dalam penurunan stunting di Kabupaten Bangka Barat," jelasnya.

Kerja sama
Kepala BKKBN Babel, Fazar Supriadi Sentosa berharap, kasus stunting di Babar dapat segera menurun. "Jadi harapan kita ada kegiatan pengukuhan TPPS ini secara bersama-sama melakukan intervensi baik gizi sensitif, maupun gizi spesifik sehingga bisa cepat penurunan stuntingnya," kata Fazar, yang turut hadir dalam pengukuhan TPPS Babar.

Pihaknya juga mengungkapkan perlu ada kerja sama seluruh pihak, guna memberikan pemahaman kepada masyarakat agar kasus stunting tidak terjadi di setiap tahunnya. "Harus bersama-sama turun ke daerah-daerah yang memang stunting-stuntingnya yang tinggi, di Bangka Barat ini yang tingginya di Kecamatan Kelapa dan Simpangteritip itu harus diturunkan," ungkapnya.

Sebelumnya diberitakan, Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka Barat mencatat kasus stunting di wilayahnya, mengalami penurunan 1,3 persen di tahun 2021. Kondisi ini membuat angka stunting di Babar menjadi 11,1 persen, dari tahun 2020, sebanyak 12,4 persen.

Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes Babar, Nurmala mengatakan, jumlah ini masih berada di bawah target nasional yakni maksimal 18 persen. Namun diakuinya, memang masih terdapat 14 desa di wilayahnya, yang memiliki angka stunting di atas 20 persen.

"Sebanyak 10 desa berada di Kecamatan Simpangteritip, yaitu Desa Simpang Gong, Pelangas, Berang, Ibul, Peradong, Air Nyatoh, Kundi, Simpang Tiga, Air Menduyung dan Bukit Terak. Sedangkan, empat desa lainnya berada di Kecamatan Kelapa, yakni Desa Tugang, Tuik, Pangkal Beras, dan Desa Dendang," jelas Nurmala, Kamis (27/1).

Menurutnya, ada sejumlah faktor yang membuat tingginya kasus stunting di Kecamatan Simpangteritip ini. "Ada indikatornya, misalnya apakah memiliki jamban, pendidikan ibu, asi eksklusif. Lalu rata-rata yang stunting itu sepertinya rendah di tingkat pendidikan, karena rata-rata ibunya tidak bersekolah," katanya.

Nurmala juga menambahkan, faktor pernikahan dini juga mempengaruhi terjadi stunting terhadap anak. "Ada juga pengaruh pernikahan dini, karena ketidaksiapan mungkin umur pernikahan terlalu muda. Umur ibu saat menikah dan rata-rata stunting itu di bawah 18 tahun, jadi kami juga memang tidak meneliti dan hanya mengambil kesimpulan dari data yang kami punya," tuturnya. (riz)

LOKUS INTERVENSI STUNTING
1. Kecamatan Simpangteritip
- Desa Simpang Gong: 23 balita
- Desa Ibul: 59 balita
- Desa Peradong: 37 balita
- Desa Kundi: 78 balita
- Desa Simpang Tiga: 85 balita
- Desa Air Menduyung: 37 balita
- Desa Bukit Terak: 36 balita
2. Kecamatan Kelapa
- Desa Dendang: 83 balita
- Desa Tugang: 60 balita
- Desa Tuik: 14 balita
- Desa Pangkal Beras: 46 balita

Sumber: Bangka Pos
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved