Kabar Belitung

Akademisi Sebut UMKM Hadapi Tantangan Pendanaan dan Pemasaran

Sektor UMKM di Indonesia kerap menghadapi tantangan, khususnya terkait pendanaan dan pemasaran. Cobaan ini diperparah dengan adanya pandemi Covid-19.

Editor: Rusaidah
Istimewa/Dok. Hartian Ramadhan
Direktur Politeknik Belitung Hartian Ramadhan. 

TANJUNGPANDAN, BABEL NEWS - Sektor UMKM di Indonesia kerap menghadapi tantangan, khususnya terkait pendanaan dan pemasaran. Cobaan ini diperparah dengan adanya pandemi Covid-19.

Tercatat ada sekitar 63,9 persen UMKM yang omzetnya berkurang hingga lebih dari 30 persen.

Menurut data pada 2021, UMKM Indonesia tercatat mampu menyerap 97 persen tenaga kerja, menyumbang 60,3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), serta berkontribusi 14,4 persen terhadap ekspor nasional.

Tentu kondisi saat ini cukup mengkhawatirkan bagi perekonomian Indonesia. Namun, blessing in disguise di balik tren ekonomi yang negatif, situasi pandemi ternyata justru ikut meningkatkan jumlah transaksi online. Menurut Dirjen Penyelenggaraan Pos dan Informatika (PPI) Kominfo, jumlah transaksi online di masa pandemi mengalami peningkatan hingga 400 persen.

World Bank (2021) menyebutkan 80 persen UMKM yang terhubung ke dalam ekosistem digital memiliki daya tahan lebih baik.
Saat ini perkembangan UMKM tercatat lebih dari 65 juta UMKM yang tersebar di Indonesia. Pada 2016, tercatat ada 61,7 juta UMKM di Indonesia dengan jumlah yang terus meningkat hingga tahun 2021, jumlah UMKM mencapai 65,46 juta.

Go online. Agar bisa bersaing dengan usaha yang berskala lebih besar, para penggiat UMKM dapat mengasah skill pemasaran online mereka. Karena, eksekusi pemasaran online yang tepat dapat mendorong perkembangan usaha dalam jangka panjang.

Masalah lain yang kerap membuat pemilik UMKM mengurungkan niat untuk go online adalah ketidaksiapan dari segi wawasan dan infrastruktur.
Menjawab permasalahan ini, pemerintah berinisiatif melakukan perluasan akses infrastruktur digital dengan menyediakan layanan internet di 12.500 titik desa dan area publik.

Tidak hanya itu, pemerintah juga memberi bantuan pelatihan via website www.edukukm.id. Website ini menyediakan berbagai kursus online terkait koperasi dan bisnis online yang bisa diakses secara gratis oleh siapa saja, khususnya para pengusaha.

Market range. Berdasarkan data dari Katadata Insight Center (KIC), mayoritas UMKM -81.6 persen- hanya menjangkau sebatas lingkungan sekitar mereka saja. Persentase usaha yang penjualannya antar kota/provinsi sebanyak 31.6 persen, bahkan yang menjangkau mancanegara hanya 3.9 % .

Angka tersebut menunjukkan bahwa salah satu tantangan UMKM adalah belum siap melakukan ekspansi pasar. Padahal, mereka dapat melakukannya dengan mudah melalui pemasaran online.

Dengan memasarkan produk atau layanan via online, mereka bisa menjangkau pasar yang belum pernah mereka jangkau sebelumnya. Baik melalui website, online marketplace, atau media sosial.

Business Resilience and durability. Hal lain yang perlu diperhatikan oleh UMKM adalah peningkatan ketahanan dan daya saing.

Dengan ketahanan dan daya saing yang tinggi, mereka akan mampu untuk melewati krisis seperti di masa pandemi sekarang ini. KIC mencatat ada 62.6 % UMKM yang mampu bertahan hingga di atas Maret 2020. Di sisi lain, ada 6 % UMKM yang mengaku hanya bisa bertahan kurang dari tiga bulan ke depan.
Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian UMKM masih memerlukan peningkatan ketahanan dan daya saing. Dan salah satu media yang bisa digunakan oleh UMKM untuk bisa bertahan adalah website.

Mengapa demikian? Karena bisnis yang sudah memiliki website dan basis massa online tidak akan begitu terpengaruh dengan kebijakan social distancing. Proses bisnisnya pun sudah terbiasa dijalankan secara jarak jauh.

Selain bisa meraih penghasilan dari para pelanggan yang memesan secara online. Keputusan untuk go online juga membantu mereka untuk tetap bertahan di masa pandemi.

Sumber: Bangka Pos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved