Minggu, 26 April 2026

Berita Pangkalpinang

Petani Sawit di Bangka Belitung Tolak Pemasangan Plang oleh Satgas PKH 

Menurut para petani sawit, pemasangan plang tersebut membuat mereka berpotensi kehilangan mata pencarian.

Editor: suhendri
Bangka Pos/Rizky Irianda Pahlevy
AUDIENSI - Masyarakat beraudiensi di gedung DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Senin (4/8/2025). Audiensi ini terkait penertiban yang dilakukan Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) dan penolakan hutan tanaman industri (HTI). 

PANGKALPINANG, BABEL NEWS - Sejumlah petani kelapa sawit di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengeluhkan pemasangan plang yang dilakukan Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan atau Satgas PKH di beberapa wilayah Babel.

Plang yang dikeluhkan berisi peringatan melarang memasuki kawasan hutan, merusak, menjarah, mencuri, menggelapkan, menguasai, memungut hasil tanaman/tumbuhan hutan, dan memperjualbelikan lahan tanpa izin dari pihak yang berwenang. 

Menurut para petani sawit, pemasangan plang tersebut membuat mereka berpotensi kehilangan mata pencarian. Sebab, beberapa titik kebun mereka diklaim masuk dalam kawasan hutan.

Karena itu, mereka menyatakan sikap menolak pemasangan plang yang dilakukan Satgas PKH

Para petani sawit menyampaikan hal tersebut usai beraudiensi di gedung DPRD Provinsi Babel, Senin (4/8/2025).

Audiensi ini terkait penertiban Satgas PKH dan penolakan terhadap hutan tanaman industri (HTI).

"Tentunya menolak dengan adanya plang, itulah mata pencarian, ada yang tanam (sawit) baru itu sekitar 1 tahun lebih, kalau dari awal sekitar 5 tahun lebih," kata Herman, petani sawit asal Kecamatan Payung, Kabupaten Bangka Selatan.

Herman mengaku, kebun sawit seluas 5 hektare selama ini telah membantunya menghidupi keluarga kecilnya.

Karena itu, ia merasa resah dengan adanya plang yang dipasang Satgas PKH.

"Selain sawit ini, saya tidak ada kerjaan lain. Ini meresahkanlah, duitnya juga pening apalagi ini anak kuliah dan juga pesantren. Biaya kuliah dari sawit inilah, tidak ada dari yang lain," tuturnya.

Hal senada disampaikan Surya Mandari (33), petani sawit asal Desa Bedengung, Kecamatan Payung, Kabupaten Bangka Selatan.

Surya khawatir pemasangan plang oleh Satgas PKH bisa menghilangkan sumber penghasilannya. 

"Kami takutlah, takut diambil karena mata pencarian kami di situlah. Pemasukan hanya dari situ, kalau dialihkan ke mana ya tidak tahu lagi mau cari buat makan. Istri juga ada kekhawatiran, anak dua juga gelisah," tuturnya.

Surya menyebutkan, kebun sawit yang kini digarapnya sudah digarap secara turun-temurun oleh keluarganya.

"Kalau diam di situ dari lahir juga di situ, orang tua juga di situlah. Ngelanjut kebun orang tua, orang tua juga ngelanjut kebun orang tuanya juga," ujarnya.

Sumber: Bangka Pos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved