Senin, 27 April 2026

Investor Pasar Modal di Bangka Belitung Tembus 70 Ribu

Jumlah investor pasar modal di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terus tumbuh dalam beberapa tahun terakhir

Editor: suhendri
KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG
Suasana pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (21/5/2018). 

PANGKALPINANG, BABEL NEWS — Jumlah investor pasar modal di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terus tumbuh dalam beberapa tahun terakhir.

Hal ini menunjukkan minat masyarakat terhadap investasi meningkat.

Bursa Efek Indonesia (BEI) Bangka Belitung mencatat, hingga pertengahan Agustus 2025, jumlah investor pasar modal di Negeri Serumpun Sebalai telah menembus 70.000 investor.

Sebarannya cukup merata dengan Kota Pangkalpinang menjadi wilayah dengan jumlah investor terbanyak, disusul oleh Kabupaten Bangka, Bangka Tengah, dan Bangka Barat.

Guna mendukung pertumbuhan tersebut, Kepala BEI Bangka Belitung Fahmi Al Kahfi mengatakan, pihaknya terus menggencarkan program edukasi dan literasi keuangan di berbagai daerah.

Strategi yang ditempuh meliputi kolaborasi dengan pemerintah daerah, perguruan tinggi, hingga komunitas lokal.

“Tahun ini kami menargetkan bisa menjangkau seluruh pemda dan universitas di Babel untuk menghadirkan Galeri Investasi agar akses edukasi pasar modal makin luas dan inklusif,” kata Fahmi kepada Bangkapos.com, Rabu (20/8/2025).

Dengan peningkatan literasi dan akses yang merata, BEI Bangka Belitung optimistis jumlah investor di daerah ini akan terus bertumbuh dan memberikan kontribusi nyata terhadap penguatan pasar modal nasional.

Fahmi menyebutkan, peningkatan minat masyarakat terhadap investasi mencerminkan geliat positif perekonomian nasional, seiring dengan rekor kapitalisasi pasar saham Indonesia yang mencapai Rp14.315 triliun pada 14 Agustus 2025.

“Dengan pencapaian ini, pasar modal Indonesia kini berada di peringkat ke-17 dunia dalam kapitalisasi pasar dan peringkat ke-2 di ASEAN berdasarkan jumlah perusahaan tercatat,” ujar Fahmi.

Selain saham, lanjut dia, produk investasi derivatif juga makin diminati oleh masyarakat. Pada 14 Agustus 2025, volume transaksi derivatif tercatat sebanyak 9.214 kontrak.

Jumlah ini meningkat drastis sebesar 404 persen dibandingkan akhir 2024.

“Ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai lebih terbuka dengan berbagai instrumen investasi yang tersedia, tidak hanya saham,” ujar Fahmi.

Meski tren investasi menunjukkan arah positif, Fahmi tetap mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati dalam memilih instrumen investasi.

Pastikan investasi yang dipilih legal dan sesuai dengan profil risiko masing-masing. 

“Jangan tergiur imbal hasil tinggi tanpa memahami risikonya. Edukasi dan informasi yang benar adalah kunci agar masyarakat bisa berinvestasi dengan aman dan berkelanjutan,” tutur Fahmi. (t3)

Sumber: Bangka Pos
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved