Jumat, 10 April 2026

Kabar Pangkalpinang

Seleksi Alam Terjadi di Bisnis Hotel yang Tak Beradaptasi

Industri perhotelan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tengah mengalami kelesuan signifikan.

Editor: Rusaidah
Istimewa/Dok. Muhammad Faisal Akbar
Dosen Ekonomi Universitas Bangka Belitung. 

PANGKALPINANG, BABEL NEWS - Industri perhotelan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tengah mengalami kelesuan signifikan, satu di antara penyebab utamanya adalah larangan penggunaan hotel untuk kegiatan pemerintahan. Padahal, sebelumnya sektor ini sangat bergantung pada anggaran belanja pemerintah, terutama untuk kegiatan rapat, bimtek dan pelatihan.

Dosen Ekonomi Universitas Bangka Belitung sekaligus Wakil Dekan Bidang Keuangan dan Umum Fakultas Ekonomi UBB, Muhammad Faisal Akbar menilai kondisi ini mencerminkan adanya ketidaksesuaian antara kepentingan fiskal negara dan model bisnis hotel yang selama ini sangat mengandalkan sektor birokrasi.

"Kondisi perhotelan akan terjadi shock pendapatan, terutama pada hotel di daerah administratif atau kota kecil yang pemasukan rutin berasal dari belanja kegiatan pemerintah (rapat, bimtek, pelatihan)," ujar Faisal, Selasa (21/4).

Ia menambahkan, saat ini kondisi kebijakan fiskal pemerintah pusat dan daerah masih bersifat temporer dan belum memiliki kejelasan terkait mekanisme kegiatan dinas di hotel.

Namun, Faisal memandang dalam jangka menengah hingga panjang, sektor ini akan mengalami seleksi alam. 

"Hotel yang tidak mampu beradaptasi akan stagnan atau bahkan tutup. Tetapi jika sektor swasta tumbuh, maka akan terbentuk pasar yang lebih mandiri dan tidak rentan terhadap perubahan kebijakan pemerintah," lanjutnya.

Faisal mendorong pemerintah untuk mengambil pendekatan dual-track strategy dalam merespons transisi ini. Pertama, dengan menyusun panduan sinergi yang jelas, termasuk regulasi yang memungkinkan pengecualian kegiatan strategis tetap bisa dilaksanakan di hotel dengan pengawasan ketat. Kedua, melalui pemberian insentif fiskal bagi hotel yang berhasil mengalihkan sebagian besar pasarnya ke sektor swasta atau wisata.

Ia juga menyarankan pengembangan ekonomi daerah melalui penguatan destinasi pariwisata seperti Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), geopark dan pariwisata berbasis komunitas guna menciptakan permintaan baru yang sehat dan berkelanjutan.

Di sisi industri, Faisal menyebutkan berbagai pendekatan inovatif yang bisa dilakukan pelaku perhotelan, antara lain diversifikasi layanan dan produk, seperti paket co-working & co-living, retreat keluarga hingga culinary tour.

Transformasi model bisnis, dengan mengalihfungsikan sebagian area hotel menjadi ruang fleksibel seperti galeri atau studio komunitas.

Optimalisasi teknologi, seperti penerapan sistem dynamic pricing dan AI booking untuk menyasar segmen pelanggan muda.
Penguatan konektivitas dengan ekosistem lokal, melalui kolaborasi dengan UMKM dan BUMDes.

Reposisi brand hotel, dengan menyasar segmen MICE dari sektor swasta dan organisasi non-pemerintah serta memanfaatkan narasi keberlanjutan dalam strategi pemasaran digital.

Peningkatan SDM, melalui pelatihan multirole dan inovasi internal.

Kemandirian finansial, dengan secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap belanja pemerintah.

"Industri perhotelan kita harus segera melakukan repositioning dan tidak hanya menunggu kepastian fiskal. Justru di tengah tekanan ini, peluang untuk menciptakan model bisnis yang berkelanjutan dan adaptif menjadi terbuka lebar," tutup Faisal. (t3)

 

Sumber: Bangka Pos
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved