Berita Belitung
Keruncong Stambul Fajar Mengalun di Panggung Kebudayaan Nasional
Irama lembut Keruncong Stambul Fajar dari Pulau Mendanau, Kabupaten Belitung, mengalun di kawasan Monumen Serangan Umum 1 Maret, Yogyakarta.
TANJUNGPANDAN, BABEL NEWS - Irama lembut Keruncong Stambul Fajar dari Pulau Mendanau, Kabupaten Belitung, mengalun di kawasan Monumen Serangan Umum 1 Maret, Yogyakarta, Jumat (17/10).
Grup Keruncong Stambul Fajar Pengekar Campo tampil mewakili Badan Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah V yang meliputi Jambi, Bangka, dan Belitung dalam rangkaian Perayaan Hari Kebudayaan Nasional yang diprakarsai Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Penampilan ini menjadi bagian dari Diskusi Grup Terpumpun yang dihadiri berbagai komunitas keroncong dari berbagai daerah.
Ketua Dewan Kesenian Belitung, Iqbal H. Saputra mengulas panjang mengenai sejarah perkembangan keroncong di nusantara yang memiliki kaitan erat dengan interaksi kebudayaan lintas benua.
"Data yang saya dapat sejak penelitian 2017 bersama Hannah Standiford dari Amerika menunjukkan tarikannya sangat panjang. Kami menemukan pengaruh Ummayah dan Abbasiyah ketika Portugal ditaklukkan Bangsa Moor. Dalam waktu bersamaan, laut Nusantara sudah menjadi bagian penting dalam interaksi niaga di bawah tiga imperium besar ketika itu," ujar Iqbal.
Irwansyah, yang menjadikan Keruncong Stambul Fajar sebagai lokus skripsinya di ISI Yogyakarta, menyebut kesenian ini memiliki kekhasan yang tumbuh dari kehidupan masyarakat Mendanau.
"Kesenian Keruncong di Mendanau tidak lepas dari praktik beume betaun dalam masyarakat. Selain itu, aktivitas kemaritiman mereka juga menjadi penting. Kedua hal ini dapat ditemukan dalam keseluruhan kesenian Keruncong di Pulau Mendanau," katanya.
Kelompok Keruncong Stambul Fajar Pengekar Campo sebelumnya pernah tampil di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) UGM pada 2019. Pertunjukan kali ini menjadi penampilan kedua mereka, membawa formasi Suherman "Jabing" sebagai pemain piul, Kik Mat Alak di gitar, Santi sebagai vokalis, Deva "Sabok" di bass, Teddy di "keruncong nganak", Irwansyah di "keruncong nyakar", dan Iqbal di "keruncong ngelingka".
"Alhamdulillah presentasi Keruncong Stambul Fajar hari ini berjalan lancar. Semoga apa yang dibahas mendorong Keroncong sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO, di mana Keruncong Stambul Fajar Pulau Mendanau bersama Keroncong Togoe Jakarta menjadi perwakilan usulan tersebut," ujar Jabing.
Ia berharap, kesenian ini dapat menjadi kebanggaan masyarakat Belitung sekaligus mendukung kebangkitan pariwisata daerah.
Kepala BPK Wilayah V, Agus Widiyatmoko menyampaikan, penampilan ini menjadi langkah penting dalam memperkuat posisi Keruncong Stambul Fajar sebagai bagian dari warna keroncong Indonesia yang diusulkan menjadi Intangible Heritage Cultural UNESCO. (del)
| Kejaksaan Negeri Belitung Musnahkan Barang Bukti 23 Perkara |
|
|---|
| Laboratorium Uji Kadar Timah Resmi Beroperasi di Belitung |
|
|---|
| Pelepasan Calon Haji Beltim 2026: Persiapan Masjid Agung Darussalam Lebih Ekstra |
|
|---|
| Belitung Women's Club Resmikan Yayasan BWC |
|
|---|
| Seleksi Magang Panasonic, Pemkab Belitung Timur Siapkan Fasilitas Kelas Bahasa Jepang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/20251019-Para-pemain-Keruncong-Stambul-Fajar-Belitung-di-Yogyakarta.jpg)