Senin, 27 April 2026

Berita Pangkalpinang

Momentum Cengbeng 2026: Generasi Muda Diingatkan Tak Melupakan Leluhur

Ribuan lembar kertas sembahyang dan dupa dibakar dalam puncak tradisi cengbeng di Perkuburan Sentosa, Kota Pangkalpinang.

Editor: suhendri
Bangkapos.com/Rizky Irianda Pahlevy
SEMBAHYANG KUBUR - Warga keturunan Tionghoa melakukan sembahyang kubur pada puncak cengbeng di Perkuburan Sentosa, Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, Minggu (5/4/2026). 

Hal ini tak lepas dari nilai historis kawasan tersebut yang menjadi tempat peristirahatan banyak leluhur masyarakat Tionghoa.

"Di (Perkuburan) Sentosa ini banyak sejarah dan leluhur dimakamkan di sini, jadi setiap cengbeng memang selalu ramai," ucapnya.

Puncak cengbeng tahun ini jatuh pada 5 April meskipun aktivitas ziarah telah berlangsung sejak beberapa hari sebelumnya.

Rangkaian ritual cengbeng umumnya dimulai dengan pembersihan makam.

Keluarga biasanya datang satu hari sebelumnya untuk merapikan area kuburan sekaligus memberi tanda akan dilaksanakannya sembahyang.

"Kita bersihkan dulu, lalu keesokan paginya baru sembahyang. Biasanya pagi-pagi sekali," ujar Johan.

Dibawa pekerja tambang

Sejarawan dan budayawan Bangka Belitung, Dato Akhmad Elvian, menyebutkan, tradisi cengbeng telah hadir di Bangka sejak awal kedatangan pekerja tambang timah dari daratan Tiongkok.

Tradisi ini dibawa oleh pekerja tambang yang didatangkan secara resmi oleh Sultan Mahmud Badaruddin I sejak tahun 1724.

“Secara historis, cengbeng sendiri telah dirayakan di Tiongkok sejak masa Dinasti Han sekitar tahun 206 sebelum masehi. Dalam maknanya, "ceng" berarti bersih atau cerah, sementara "beng" berarti terang atau cemerlang,” kata Elvian kepada Bangka Pos, Sabtu (4/4/2026).

Tradisi cengbeng biasanya dilaksanakan setiap tanggal 4 atau 5 April, atau tepatnya hari ke-104 setelah perayaan Imlek.

Dalam praktiknya, cengbeng menjadi momentum bagi masyarakat Tionghoa untuk berziarah, membersihkan makam, serta memberikan penghormatan kepada leluhur.

"Di Bangka, ini sering disebut sebagai sembahyang kubur karena dilaksanakan langsung di makam leluhur," ujar Elvian.

Pada masa Hindia Belanda, tradisi cengbeng bahkan menjadi bagian dari kalender sosial pekerja tambang.

Dalam setahun, para pekerja Tionghoa mendapatkan jatah libur selama 15 hari, yang digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk merayakan Imlek dan menjalankan tradisi cengbeng. (riz/t2)

Sumber: Bangka Pos
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved