Breaking News:

Kemenkumham Kecolongan,Napi di Lapas Narkotika Pangkalpinang Jadi Otak Jaringan Narkoba Antar Pulau

 Informasi adanya keterlibatan seorang narapidana (Napi) membuat pihak Lapas Narkotika Kelas II A Pangkalpinang, langsung melakukan penggeledahan.

Editor: nurhayati
Bangkapos.com/Cepi Marlianto
Napi Ashadi alias Hadi yang diduga mengendalikan peredaran gelap naroktika antar pulau saat diborgol oleh petugas di Lapas Narkotika Kelas II A Pangkalpinang, Minggu (1/8/2021). 

Kepala Divisi Pemasyarakatan (Kadivpas) Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) Bangka Belitung Agus Irianto, mengatakan Adi diduga menjadi otak jaringan peredaran gelap narkotika Sumatera Selatan, Riau dan Bangka Belitung.

Terbongkarnya peredaran gelap narkotika yang dikendalikan oleh seorang napi di Lapas Narkotika Kelas II A Pangkalpinang ini bermula dari informasi petugas yang curiga akan gerak-geriknya saat menggunakan warung telekomunikasi (Wartel).

Setelah ditindaklanjuti benar saja, Tim Penyidik dari BNNP Bangka Belitung yang didampingi petugas lapas mendapati barang bukti dua unit handphone yang digunakan dari wartel.

“Ini diawali informasi dari petugas Lapas Narkotika Pangkalpinang pada tanggal 29 Juli 2021 bahwa akan ada pengendalian diduga narkotika dari Lapas ini dan dikendalikan oleh seorang napi,” kata dia kepada Bangkapos.com dalam konferensi persnya.

Dikatakan Agus, pihaknya mengaku kecolongan dalam penggunaan wartel dengan adanya kejadian ini.

Padahal petugas Lapas sudah melakukan pengawasan secara ketat terhadap penggunaan wartel seperti membatasi beberapa menit untuk berkomunikasi karena banyaknya warga binaan.

“Kita ini menyiapkan handphone melalui wartel yang betul-betul kita awasi. Namun bagaimanapun ini tidak terkontrol dan ada kecolongan. Yang dilakukan AD itu menggunakan handphone dari wartel, jadi bukan handphone sendiri,” terang Agus.

Dengan adanya kejadian ini Kadivpas menegaskan akan memerintahkan Kepala Lapas untuk mengontrol dalam penggunaan wartel.

Selain itu, pihaknya juga tak dapat melarang warga binaan untuk berkomunikasi menggunakan wartel karena menyangkut perihal HAM.

“Wartel itu memang kita adakan untuk kepentingan mereka. Memang tidak semua warga binaan berniat tidak baik, banyak juga yang kangen dengan keluarga tidak bisa kita larang,” ujar Agus.

Sementara itu Pelaksana Harian (Plh) Kepala Bidang Brantas BNNP Babel, AKBP Noer Wisnanto menyebut, terbongkarnya kasus peredaran narkotika ini setelah dirinya mendapatkan informasi akan adanya penyelundupan sabu antar provinsi yang akan di antar melalui jalur laut dengan speed penumpang melewati perairan Sumatera Selatan ke Bangka tengah, Kamis (29/07/2021).

Paket tersebut dibawa oleh mertua dan menantu dengan estimasi sabu seberat 1,15 kilogram senilai Rp2,8 miliar serta akan diterima kembali melalui jalur darat secara estafet dari Jalur Palembang-Bangka-Pangkalpinang.

Benar saja komplotan pengedar narkoba ini ditangkap di perairan muara Sungai Selan, Kabupaten Bangka Tengah, Jumat (30/07/2021).

“Tim berhasil mengamankan mertua dan menantu di tengah laut antara perairan Sumsel dan Babel dengan mencoba melempar barang bawaan ke laut dengan memanfaatkan pemeriksaan identitas penumpang,” ucap Noer.

Noer menuturkan, barang haram tersebut rencananya akan diantarkan Rosnawati ke Pangkalpinang melalui instruksi telepon yang diatur saudari Ema atas perintah yang suaminya Adi yang berada di dalam Lapas Narkotika Kelas II A Pangkalpinang.

Dengan imbalan suaminya dengan inisial D yang saat ini berada di dalam Lapas di Babel akan dipindahkan ke penjara di Palembang. Rosita berangkat ke daerah jalur dengan Mahyudi yang tidak lain adalah menantunya.

Setelah itu tim gabungan juga berhasil menangkap pelaku lain ditempat yang berbeda.

“Setelah sampai saudari Rosita akan memberitahu Ema dan Hayani yang selanjutnya akan diambil oleh kurir saudara R di perkuburan Tera melalui control delivery. Hayani melalui handphone menginstruksikan untuk diantar paket sabu tersebut di Simpang Lapas Narkotika Selindung, Jalan Lintas Timur,” tambah Noer.

Dari penangkapan tersebut berhasil mengamankan tujuh orang tersangka, empat orang diantaranya Rosnawati (41), Mahyudi (34), Supli (33) dan Hayani (37).

“Totalnya ada tujuh orang. Tiga orang wanita dan empat orang laki-laki. Semuanya sudah diamankan di BNNP,” kata dia.

Dalam penangkapan tersebut berhasil diamankan barang bukti berupa satu bungkus kemasan teh cina warna hijau yang didalamnya berisi kristal putih narkotika jenis sabu dengan berat bruto 1 kilogram, satu paket dibungkus lakban hitam yang didalamnya terdapat dua bungkus sedang plastik strip dengan berat bruto 150,62 gram.

“Para tersangka dikenakan pasal berlapis. Mereka dipersangkakan melanggar pasal 114 junto pasal 112 junto pasal 132 Undang-undang Narkotika dan terancam hukuman seumur hidup,” tegas Noer.

(Bangkapos.com/Cepi Marlianto)

Sumber: Bangka Pos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved