Heboh Dugong Terdampar di Pasir padi Pangkalpinang, Tahukah Anda Hewan Ini Kerabat Evolusi Gajah?

Video penampakan Dugong di Pantai Pasir Padi Pangkalpinang beredar. Dulu pernah ada kasus tengkoraknya dikirim ke Thailand

Editor: Dedy Qurniawan
Ist/tangkapan layar story Langka Sani
Penampakan Dugong yang terdampar di Pantai Pasirpadi Pangkalpinang 

Hewan ini membutuhkan kawasan jelajah yang luas, perairan dangkal serta tenang, seperti di kawasan teluk dan hutan bakau.

Moncong hewan ini menghadap ke bawah agar dapat menjamah rumput laut yang tumbuh di dasar perairan.

Etimologi dan taksonomi

Duyung semula diklasifikasikan oleh Müller pada tahun 1776 sebagai Trichechus dugon, salah satu ahli genus manatee yang sebelumnya didefinisikan sebagai Linnaeus.

Ia kemudian ditetapkan sebagai jenis spesis Dugong oleh Lacépède dan diklasifikasikan lebih lanjut di dalam keluarganya sendiri oleh Gray dan subfamilinya oleh Simpson.

Ernst Christoph Barchewitz mengunakan istiliah „dugung“ dan „manate“ ketika ia tinggal dipulau Leti 1714-1720.

Perkataan "dugong" dalam bahasa Inggris dan bahasa-bahasa lain, berasal dari istilah dalam bahasa Melayu yakni duyung, kedua-duanya memiliki makna yakni "perempuan laut."

Nama-nama lain termasuklah "lembu laut", "babi laut" dan "unta laut."

Konservasi

Duyung menjadi hewan buruan selama beribu-ribu tahun karena daging dan minyaknya.

Kawasan penyebaran dugong semakin berkurangan, dan populasinya semakin menghampiri kepunahan.

IUCN mengklasifikasikan dugong sebagai spesies hewan yang terancam, manakala CITES melarang atau mengharamkan perdagangan barang-barang produksi yang dihasilkan dari hewan ini.

Walau pun spesies ini dilindungi di beberapa negara, penyebab utama penurunan populasinya di antaranya ialah karena pembukaan lahan baru, perburuan, kehilangan habitat serta kematian yang secara tidak langsung disebabkan oleh aktivitas nelayan dalam menangkap ikan.

Duyung bisa mencapai usia hingga 70 tahun atau lebih, serta dengan angka kelahiran yang rendah yang mengancam menurunnya populasi duyung.

Duyung juga terancam punah akibat badai, parasit, serta hewan pemangsa seperti ikan hiu, paus pembunuh dan buaya.

Dugong dilindungi dalam tiga cakupan konvensi konservasi internasional:

1. Konvensi tentang Keanekaragaman Hayati (CBD)

2. Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Langka Fauna dan Flora Liar (CITES)

3. Konvensi tentang Spesies Migrat Spesies Hewan Liar (juga dikenal sebagai CMS atau Konvensi Bonn).

Ancaman

Ancaman terhadap Dugong bervariasi antara populasi yang berbeda seperti yang dirinci dalam Marsh et al. (2011) dan Hines dkk. (2012).

Ancaman utama meliputi:

Penangkapan yang tidak disengaja pada alat tangkap (misalnya jaring insang), jaring ikan hiu untuk perlindungan bather, penangkapan IUU terutama jika daging dijual kemudian untuk pengkajian cepat terperinci berdasarkan kuesioner untuk memberikan informasi tentang hotpots konservasi untuk Dugong di 18 negara di empat wilayah geografis: Pasifik, Asia Tenggara, Asia Selatan dan Afrika Timur, dengan 6.153 responden)

Berburu: legal (yaitu sanksi budaya) dan ilegal

Habitat

Habitat untuk Dugong meliputi daerah pesisir, dangkal sampai sedang dalam, perairan hangat (minimum 15-17 ° C dengan termoregulasi perilaku), padang lamun yang mendukung spesies lamun tropis dan tropis, terutama spesies serat rendah.

Dugong menunjukkan variabilitas yang besar dalam pola pergerakan dan migrasi, tergantung pada wilayah dan pengaruh suhu musiman atau curah hujan pada ekosistem.

Populasi

Lima negara / wilayah (Australia, Bahrain, Papua Nugini, Qatar dan Uni Emirat Arab) mendukung subpopulasi besar Dugong (ribuan) dengan puluhan ribu Dugong di Australia utara / Papua Nugini saja.

Persentase individu dewasa cenderung bervariasi antara berbagai subpopulasi, namun kemungkinan berada di antara 45% dan 70%.

Informasi genetik tentang populasi Dugong sebagian besar terbatas pada wilayah Australia.

IUCN mencatat bahwa populasi Dugong mulai menurun dan statusnya menjadi rentan pada tahun 2008.

(bangkapos.com / Cici Nasya Nita/ Sela Agustika)

Sumber: Bangka Pos
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved