Rabu, 8 April 2026

Kabar Bangka Tengah

Kisah Peserta PKBM di Bangka Tengah Berusia Sekolah

PKBM jadi pilihan bagi mereka yang putus sekolah pendidikan formal, namun masih ada keinginan untuk belajar ilmu pengetahuan.

Editor: Rusaidah
Istimewa/Dok. KL Mahadaya Koba
Peserta didik di PKBM Kampung Literasi Mahadaya sedang mengikuti kegiatan belajar yang disampaikan oleh tenaga pendidik. 

KOBA, BABEL NEWS - Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) jadi pilihan bagi mereka yang putus sekolah pendidikan formal, namun masih ada keinginan untuk belajar ilmu pengetahuan, meskipun kegiatan belajarnya tidak seperti di sekolah formal.

Mereka yang menimba ilmu di pendidikan nonformal PKBM ini pada umumnya sudah melewati batas usia sekolah, namun ternyata ada juga peserta PKBM yang masih usia sekolah, seperti  ditemui di PKBM Kampung Literasi Mahadaya, Koba, Bangka Tengah.

Ika satu di antara peserta PKBM Kampung Literasi Mahadaya yang masih mengikuti pendidikan paket B sejak awal tahun lalu. Ia berhenti sekolah formal saat masih duduk di bangku kelas III SMP semester satu. Itupun bukan pilihan Ika untuk berhenti sekolah, tapi karena keadaan akibat dampak pergaulan bebas.

"Kalau saya nggak berhenti mungkin sekarang sudah kelas I SMA, saya lihat teman-teman waktu SMP dulu, sekarang sudah kelas I SMA," ujar Ika tertunduk sambil menahan sedih kepada Bangka Pos Group, Jumat (12/10).

Bungsu dari tiga bersaudara ini menuturkan, pilihan berhenti sekolah SMP saat itu sangat berat. Namun keadaan mengharuskan dirinya menikah atas permintaan orang tuanya di saat masih berumur sekitar 15 tahun. Naas pernikahannya hanya seumur jagung, sekitar tiga bulan menikah dan akhirnya berpisah tanpa dikaruniai anak.

"Pas tiga hari setelah Lebaran Idulfitri lalu pisahnya, sekitar tiga bulan nikah lalu pisah. Sedih rasanya, menyesal berhenti sekolah, kalau masih sekolah mungkin bisa meraih banyak prestasi. Jadi aku berusaha tegar, kuat, soal e aku tetap mau sekolah, aku mau jadi orang yang sukses," tutur Ika dengan nada bicara bergetar dan mata berkaca-kaca.

Berkaca dari kondisi yang dialaminya, Ika yang saat ini berusia 16 tahun berpesan, bagi yang masih sekolah di pendidikan formal, agar jangan sampai putus sekolah. Sebab dirinya sudah mengalami bagaimana rasanya putus sekolah. Di saat selesai mengikuti Paket B, sudah tidak bisa lagi sekolah formal SMA atau SMK, sehingga harus melanjutkan Paket C di PKBM.

Senada dikatakan Aldi yang juga putus sekolah formal di saat duduk di kelas 1 SMK, kini menempuh pendidikan nonformal paket C di PKBM Kampung Literasi Mahadaya. Remaja yang akan menginjak usia 17 tahun ini berharap bagi yang masih sekolah agar tetap sekolah hingga tamat.

Sekitar dua tahun putus sekolah, Aldi merasakan dampaknya, meskipun awal putus sekolah ia merasa bebas tidak ada beban belajar. Namun belakangan baru ada penyelasan, karena sulinya mencari pekerjaan.

"Awal berhenti sekolah memang enak, bebas mau kemana aja, tapi susah nyari pekerjaan. Sekitar enam bulan kerja di warung keluarga setelah putus sekolah, tapi akhirnya diberhentikan karena tidak masuk. Dari situlah baru menyesal kenapa tidak sekolah, nyari pekerjaan juga susah," ujar Aldi

Ia mengaku berhenti sekolah kelas I SMK setelah menerima raport semester I. Alasanya berhenti sekolah merasa banyak tugas yang harus dikerjakan. Setiap tugas dari guru tidak pernah dikerjakannya kecuali pelajaran matematika.

"Jadi gara-gara banyak tugas ini jadi berhenti sekolah, sekarang baru menyesalnya. Sekitar awal tahun kemarin masuk PKBM ini, biar bisa belajar biarpun Paket C," tuturnya.

Terpisah Pemilik PKBM Kampung Literasi Mahadaya Umayah Wardaya Muntahar mengatakan, saat ini ada sebanyak 527 peserta didik yang ikut PKBM, terdiri 82 orang Paket A, 168 orang Paket B, 277 orang Paket C. Dari total 527 peserta didik PKBM, sebanyak 318 orang masih dalam usia sekolah.

"Ada banyak faktor anak usia sekolah ikut PKBM disini, diantaranya karena dampak pergaulan bebas, broken home dampak perceraian orang tua dan lainnya," ujar Umayah yang akrab disapa Bunda Maya ini.

"Di antara peserta PKBM usia sekolah yang putus sekolah karena pergaulan bebas ini ternyata punya prestasi. Tentu kami di sini mencoba mengarahkan mereka, menumbuhkan kepercayaan anak-anak ini. Jadi selain mereka belajar paket, mereka juga mengikuti berbagai kegiatan di kampung literasi ini untuk menyalurkan bakat, prestasi mereka," kata Umayah.

Belajar paket di PKBM menurut Umayah, bukan tidak ada lagi kesempatan untuk bisa menjadi orang sukses, karena masih ada kesempatan untuk bisa kuliah di Universitas Terbuka. Yang terpenting ada kemauan dan keinginan dari peserta PKBM untuk serius belajar, melupakan masa lalu yang menjadi penyebab putus sekolah. (bev)

 

Sumber: Bangka Pos
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved