Kabar Belitung

Puppet Show Media Edukasi Pelajar

Lampu perlahan redup, menyisakan cahaya lembut yang menyinari layar kecil berukuran sekitar 1,5 x 1 meter.

Editor: Rusaidah
Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari
PANGGUNG BONEKA - Pengelola Geopark Information Center Yudianto saat menunjukkan panggung teater boneka dengan karakter-karakternya, Rabu (12/2/2025). Panggung ini berada di ruangan yang ada di GIC. 

TANJUNGPANDAN, BABEL NEWS - Lampu perlahan redup, menyisakan cahaya lembut yang menyinari layar kecil berukuran sekitar 1,5 x 1 meter. Musik bernuansa ceria mengalun menandai awal dari sebuah petualangan.

Tirai hitam perlahan terbuka dan muncullah sosok mungil, seekor tarsius atau dalam bahasa lokal disebut pelile'an juga seekor kodok. Ada pula sosok jangkrik melompat-lompat, sambil bernyanyi.

Cerita pun mengalir. Persaingan antara tarsius dan kodok untuk mendapatkan jangkrik berubah menjadi petaka saat lidah sang kodok tersangkut, tak sengaja menyatukan dirinya dengan tarsius.

Dari awal yang penuh persaingan, mereka berakhir sebagai sahabat. Penonton diajak larut dalam kisah yang tidak hanya menghibur tetapi, sarat makna, dan menghidupkan kembali imajinasi.

Pertunjukan ini berlangsung di satu ruangan yang ada di Geopark Information Center, Rabu (12/2) malam.

Setiap kali adegan berganti, layar kembali tertutup sejenak, memberi waktu bagi para pemain untuk bersiap di baliknya.
Kirana dan Zahra, dua anak muda Belitung yang masih berstatus pelajar SMA, menjadi dalang dari pergerakan boneka-boneka ini.

Kirana adalah Dayang Belitung dari SMA Negeri 1 Tanjungpandan, sementara Zahra berasal dari SMA Negeri 2 Tanjungpandan.
Lelucon yang diselipkan dalam bahasa daerah, seperti ketika karakter ular piton atau disebut 'sabak' dalam bahasa lokal muncul, mampu memancing tawa penonton.

Di balik konsep unik ini, ada sosok Steve, sebagai sutradara yang memang berasal dari Perancis.

Teater boneka ini ditampilkan memang minim dialog. 

Menurut Steve, hal ini sengaja dilakukan agar penonton bisa bebas menginterpretasikan cerita. Baginya, puppet show bukan sekadar pertunjukan, tetapi ruang imajinasi tanpa batas.

"Tidak harus selalu ada narasi panjang. Saya ingin penonton menafsirkan sendiri apa yang mereka lihat," ujarnya.

Ia membawa gaya pertunjukan boneka khas Perancis, tetapi dengan sentuhan khas Belitung.

Mulai dari tokoh-tokoh seperti pelile'an dan buaya hingga karakter manusia bernama Malabar yang khas dengan sarung dan singletnya. Pertunjukan malam itu disaksikan oleh para guru-guru sekolah. Agar nantinya, puppet show ini bisa menjadi media edukasi bagi para pelajar.

Usai pertunjukan, penonton diajak menyaksikan panggung puppet show yang lebih besar.
Panggung ini adalah hasil kerja keras Steve dan anak-anak muda Belitung selama sekitar lima bulan sebelum pandemi.

Meski masih perlu penyempurnaan di beberapa bagian seperti pencahayaan, panggung tersebut telah menghadirkan boneka-boneka yang menyerupai tokoh-tokoh nyata.

Sumber: Bangka Pos
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved