Kabar Belitung
Puppet Show Media Edukasi Pelajar
Lampu perlahan redup, menyisakan cahaya lembut yang menyinari layar kecil berukuran sekitar 1,5 x 1 meter.
Salah satu yang menarik perhatian adalah boneka yang merepresentasikan mantan Bupati Belitung, Sahani Saleh atau Sanem, dengan kulit gelap dan kumis khasnya.
Ada pula figur mantan Wakil Bupati Isyak Meirobie, digambarkan sebagai pria berkacamata dengan kulit kuning langsat. Di sinilah esensi pertunjukan boneka menjadi lebih luas.
Tak hanya menghadirkan kisah fiksi, tetapi juga bisa merekam jejak sejarah, hingga kisah rakyat dalam bentuk seni pertunjukan. Seperti yang dikatakan Steve, dalam dunia boneka, tidak ada batasan.
Kisah imajiner yang ditampilkan di antaranya bisa membawa seekor bintang laut bermimpi menjadi bintang di langit. Malam itu, puppet show bukan sekadar hiburan. Namun sekaligus menjadi jendela untuk berimajinasi, bagi seniman untuk berekspresi dan bagi budaya untuk terus bertumbuh dalam kolaborasi. Seniman Belitung, Suyon, turut mengapresiasi upaya ini.
"Inspirasi bagi kami, juga untuk guru-guru. Saya terharu melihat seni bisa menjadi bagian dari pendidikan yang lebih bermakna," katanya.
Perpaduan Dua Budaya Berkat Pesona Bukit Peramun
Masyarakat Belitung kini bisa menyaksikan seni pertunjukan unik berupa puppet theater atau teater boneka, sebuah seni yang lekat dengan budaya Prancis.
Tapi bagaimana bisa seni pertunjukan Eropa ini bisa hadir di pulau Laskar Pelangi?
Semua bermula pada 2019, saat atase kebudayaan dari Kedutaan Besar Prancis berkunjung ke Geosite Bukit Peramun.
Mereka terpesona dengan keindahan alamnya dan ingin memberikan kontribusi dalam bentuk seni.
Dari sinilah gagasan menggabungkan teknik boneka tali khas Prancis dengan cerita-cerita lokal Belitung muncul. Di Prancis, boneka tali ini disebut Marionnete.
"Kami di Belitung hampir tidak memiliki seni pertunjukan berbasis edukasi seperti di Jawa yang punya wayang. Kesempatan ini menunjukkan bahwa seni bisa menjadi media pembelajaran yang menarik," ujar Pengelola Geopark Information Center, Yudi, Rabu (12/2) malam.
Institut Prancis Indonesia kemudian memberikan sumbangan untuk membangun panggung pertunjukan boneka tali ini. Sejatinya, panggung ini dibuat untuk Geosite Bukit Peramun, tetapi karena keterbatasan fasilitas, akhirnya ditempatkan di Geopark Information Center (GIC).
Kini, puppet theater di Belitung telah dipentaskan tiga kali.
Terbaru, pertunjukan ketiga berlangsung di Geopark Information Center yang mengundang para guru dari sekolah-sekolah yang ada di Belitung dan awak media.
| Kejari Gandeng Kodim 0414 Belitung Jaga Stabilitas di Daerah |
|
|---|
| SMAN 1 Manggar Sabet Dua Kategori Juara Semarak Hardiknas |
|
|---|
| Kamarudin Hibahkan 16 Ha Lahan Pribadi untuk SMA Unggul Garuda |
|
|---|
| DPRD Belitung Minta Seleksi Calon Direktur BUP Tanjung Batu Patuhi Aturan |
|
|---|
| Seleksi Direktur BUP Tanjung Batu, Vina Tegaskan Jangan Ada Transaksi Jabatan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/babel/foto/bank/originals/PANGGUNG-BONEKA-Pengelola-Geopark-Information-Center-Yudianto.jpg)