Rabu, 8 April 2026

Kabar Pangkalpinang

Lemang Ibu Agung yang Tetap Bertahan Hiasi Kuliner Ramadan

Sudah 14 tahun ia setia di lokasi ini, menjadikan 'Lemang Ibu Agung' sebagai salah satu ikon kuliner musiman di Pangkalpinang.

Editor: Rusaidah
Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah
MENJAJAKAN LEMANG - Asmi (60), penjual Lemang Ibu Agung yang tetap setia berjualan di Pasar Takjil Masjid Jamik Kota Pangkalpinang setiap Ramadan sejak 2010, Minggu (9/3). 

PANGKALPINANG, BABEL NEWS - Di bawah tenda biru sederhana di kawasan Pasar Takjil Masjid Jamik Kota Pangkalpinang, Asmi (60) dengan sabar melayani pembeli.

Tangannya yang cekatan membelah lemang penganan khas berbahan dasar beras ketan yang dimasak dalam bambu dan menyajikannya dengan ketan hitam. 

Sudah 14 tahun ia setia di lokasi ini, menjadikan 'Lemang Ibu Agung' sebagai salah satu ikon kuliner musiman di Pangkalpinang.

"Sejak tahun 2010 saya di sini, dari awal berjualan lemang hingga sekarang," ujarnya kepada Bangkapos.com, Minggu (9/3) sore.

Lemang adalah makanan tradisional yang terbuat dari beras ketan, santan dan sedikit garam, yang kemudian dimasukkan ke dalam ruas bambu yang telah dialasi daun pisang. Proses memasaknya menggunakan bara api dari kayu bakar, sehingga menghasilkan aroma khas yang menggoda selera. 

Setiap hari selama Ramadan, Asmi memulai pekerjaannya sejak pukul 02.00 pagi. 

"Bambu diisi ketan, lalu dibakar hingga matang. Setelah subuh baru diangkat," jelasnya.

Di masa kejayaan Pasar Takjil Masjid Jamik, Asmi bisa menjual hingga 200 batang lemang per hari. Namun, dampak pandemi dan kondisi ekonomi yang tak menentu membuat penjualannya turun drastis. 

"Sekarang, paling 60 batang sehari," katanya.

Meski demikian, ia tetap bersyukur. Selama lebih dari satu dekade berjualan, ia mampu membangun rumah dan menyekolahkan anak-anaknya. 

"Ini berkah Ramadan, saya hanya berjualan sebulan penuh setiap tahunnya. Sisanya, saya menikmati waktu bersama cucu-cucu," katanya tersenyum.

Lemang buatan Asmi dijual seharga Rp35 ribu per batang, dengan tambahan ketan hitam seharga Rp10 ribu, banyak pelanggan yang menikmatinya bersama rendang, terutama menjelang Idulfitri, saat permintaan meningkat.

Meskipun zaman berubah dan tren kuliner berganti, Lemang Ibu Agung tetap bertahan. Di usianya yang tak lagi muda, Asmi masih setia menjaga tradisi dan rasa, memastikan setiap batang lemang yang dijualnya tetap menghadirkan kenangan bagi pelanggan setianya. (t2)

Sumber: Bangka Pos
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved