Kabar Belitung
Pelaku Wisata: Bukan Soal Karcis Tapi Tata Kelola Profesional
Ketua Umum ASPPI, Agus Pahlevi juga menyoroti terkait polemik penarikan tiket masuk ke Pantai Tanjung Tinggi yang belakangan ramai dipertanyakan.
TANJUNGPANDAN, BABEL NEWS - Ramainya keluhan soal tiket masuk di Pantai Tanjung Tinggi, Belitung, dinilai bukan semata soal pungutan karcis, tapi mencerminkan belum adanya tata kelola profesional di salah satu destinasi unggulan Pulau Belitung tersebut.
Ketua Umum Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI), Agus Pahlevi juga menyoroti terkait polemik penarikan tiket masuk ke Pantai Tanjung Tinggi yang belakangan ramai dipertanyakan publik.
Menurutnya, yang menjadi persoalan bukanlah sekadar ada atau tidaknya karcis, melainkan bagaimana tata kelola destinasi itu dijalankan secara profesional.
"Beberapa hal yang mempengaruhi kenyamanan wisatawan saat berwisata adalah kondisi destinasi yang bersih dan aman. Hal ini menjadi faktor penting untuk menciptakan imej positif bagi wisatawan," ujarnya, Minggu (6/4).
Pantai Tanjung Tinggi yang dikenal luas berkat film Laskar Pelangi, kata Agus, sudah menjadi ikon pariwisata Belitung.
Karena itu, pengelolaannya harus melibatkan sumber daya manusia yang kompeten dan didukung fasilitas yang memadai.
"Sudah selayaknya destinasi ini dikelola oleh pengelola profesional. Jangan sampai apa yang dilihat wisatawan di media sosial tidak sesuai dengan kenyataan saat mereka tiba," tegasnya.
Menurut Agus, destinasi wisata berkembang harus memiliki sistem tata kelola yang baik, termasuk dalam hal pendanaan untuk penyediaan amenitas seperti toilet, tempat ibadah, tempat parkir, fasilitas kesehatan, hingga layanan kebersihan dan keamanan.
"Untuk mewujudkan destinasi bersih dan aman memang butuh dukungan sumber daya, bukan hanya manusia dan alam, tapi juga keuangan. Kalau ada tiket masuk, maka harus jelas untuk apa uang itu dipakai dan bagaimana tanggung jawabnya," lanjutnya.
Ia mencontohkan beberapa destinasi lain di Belitung yang memberlakukan tiket masuk, seperti Pantai Burung Mandi dan Pantai Tanjung Pendam.
Tiket di destinasi tersebut, kata Agus, berdampak langsung terhadap pendapatan desa atau daerah, sekaligus diikuti dengan penyediaan fasilitas penunjang.
"Jadi bukan sekadar menarik tiket, tapi ada imbal balik yang dirasakan wisatawan. Itulah yang membentuk pengalaman dan kesan positif," ucapnya.
Kondisi Pantai Tanjung Tinggi saat ini, kata dia, jauh dari kesan destinasi berkelas dunia.
Meski disebut sebagai ikon wisata, pengelolaannya belum mencerminkan standar profesional, apalagi jika tiket masuk diberlakukan secara insidental hanya saat libur lebaran.
"Kami para pelaku wisata yang setiap hari berinteraksi dengan destinasi ini tahu persis, sebelumnya tidak ada tiket masuk. Lalu tiba-tiba saat libur diberlakukan karcis, wajar kalau publik bertanya-tanya," katanya.
Agus menekankan, idealnya destinasi wisata memang harus berdampak terhadap wilayah dan masyarakat sekitar. Namun, semua itu harus dilakukan dengan mengikuti ketentuan dan regulasi yang berlaku agar tercipta ekosistem pariwisata yang sehat dan berkelanjutan. (del)
| Kejari Gandeng Kodim 0414 Belitung Jaga Stabilitas di Daerah |
|
|---|
| SMAN 1 Manggar Sabet Dua Kategori Juara Semarak Hardiknas |
|
|---|
| Kamarudin Hibahkan 16 Ha Lahan Pribadi untuk SMA Unggul Garuda |
|
|---|
| DPRD Belitung Minta Seleksi Calon Direktur BUP Tanjung Batu Patuhi Aturan |
|
|---|
| Seleksi Direktur BUP Tanjung Batu, Vina Tegaskan Jangan Ada Transaksi Jabatan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/babel/foto/bank/originals/Ketua-Umum-Asosiasi-Pelaku-Pariwisata-Indonesia-ASPPI-Agus-Pahlevi.jpg)