Minggu, 10 Mei 2026

Berita Bangka Selatan

Cuaca Ekstrem Intai Perairan Bangka Selatan, Tangkapan Nelayan Melonjak

Cuaca ekstrem yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir tidak selalu membawa dampak negatif bagi nelayan.

Tayang:
Bangkapos.com/Cepi Marlianto
RAPIKAN JARING -- Beberapa orang nelayan merapikan jaring usai melaut di pesisir pantai Batu Perahu, Senin (5/1/2026). Di tengah cuaca barat laut yang cenderung ekstrem, aktivitas nelayan tetap berlangsung karena kondisi tersebut justru membawa peningkatan hasil tangkapan ikan, terutama ikan bawal hitam, meski harga jual ikan di pasaran sedang mengalami penurunan. 

TOBOALI, BABEL NEWS - Cuaca ekstrem yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir tidak selalu membawa dampak negatif bagi nelayan. Di tengah kondisi angin barat laut dan gelombang yang kerap tinggi, hasil tangkapan ikan nelayan justru mengalami peningkatan. 

Hal itu seperti yang dialami oleh Fatur (45) seorang nelayan di kawasan Batu Perahu, Kelurahan Tanjung Ketapang, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan. Saat ditemui di pesisir pantai Batu Perahu, Fatur tengah sibuk merapikan jaring tangkap miliknya bersama beberapa orang nelayan lainnya.

Menurutnya, cuaca ekstrem yang terjadi saat ini justru menjadi kondisi yang dinantikan oleh para nelayan, khususnya bagi mereka yang menangkap ikan bawal hitam. Jenis ikan tersebut memang banyak muncul pada musim cuaca barat laut seperti sekarang.

"Memang di tengah cuaca ekstrem saat ini hasil tangkapan ikan justru meningkat," kata Fatur, Senin (5/1).

Fatur mengakui, di tengah cuaca barat laut, hasil tangkapan ikan bisa mencapai 60 hingga 100 kilogram per hari. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan kondisi cuaca normal. Di mana hasil tangkapan nelayan rata-rata berada di kisaran 50 kilogram per hari. Meski demikian, Fatur menegaskan bahwa nelayan tetap mengutamakan keselamatan. 

Ia bersama rekan-rekannya tidak memaksakan diri untuk melaut apabila angin bertiup terlalu kencang dan gelombang laut membahayakan. Pasalnya, ia mengaku biasa melaut hingga jarak sekitar 30 mil dari garis pantai. Namun jarak tempuh tersebut disesuaikan dengan kondisi cuaca yang terjadi setiap harinya.

"Kalau angin kuat dan ombak cukup tinggi, kami juga tidak akan berani melaut. Keselamatan tetap yang utama," ujar Fatur.

Di sisi lain, meningkatnya hasil tangkapan tidak sepenuhnya membawa kabar baik bagi nelayan. Harga ikan bawal di tingkat nelayan justru mengalami penurunan. Saat ini, ikan bawal dibanderol sekitar Rp36.000 per kilogram, turun dari harga sebelumnya yang mencapai Rp45.000 per kilogram. Penurunan harga tersebut, kata dia, baru dirasakan dalam satu minggu terakhir. 

"Saya tidak tahu kenapa harga ikan turun, karena ini masalahnya bisnis. Karena banyak nelayan yang menjual ke PT," katanya. 

Kondisi ini membuat nelayan harus lebih berhitung dalam mengelola hasil tangkapan mereka. Meski harga jual menurun, Fatur menyebut pihaknya tetap berupaya agar pendapatan dari hasil melaut masih dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari. 

Ia berharap harga ikan ke depan kembali stabil, sehingga peningkatan hasil tangkapan yang diperoleh nelayan di musim cuaca ekstrem ini dapat berdampak langsung terhadap kesejahteraan mereka.

"Kalau bilang cukup atau tidak untuk memenuhi kebutuhan hari dengan harga jual ikan saat ini kita upayakan cukup," pungkasnya. (u1)

Jangan Paksakan Melaut
KEPOLISIAN Resor Bangka Selatan mengingatkan masyarakat pesisir dan nelayan untuk meningkatkan kewaspadaan. Khususnya terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih berpeluang terjadi di wilayah perairan di daerah itu. Peringatan tersebut disampaikan menyusul adanya ancaman gelombang tinggi, angin kencang, dan perubahan cuaca yang dapat terjadi secara tiba-tiba dan berisiko terhadap keselamatan pelayaran.

Kepala Satuan Polisi Air dan Udara (Satpolairud) Polres Bangka Selatan, Iptu Mulia Renaldi menegaskan, keselamatan harus menjadi prioritas utama bagi seluruh nelayan sebelum dan saat melaut. Dirinya mewanti-wanti agar nelayan tidak memaksakan diri berlayar ketika kondisi cuaca tidak mendukung. Pasalnya, kondisi tersebut sangat berisiko tinggi bagi keselamatan nelayan ketika melaut di laut lepas.

"Kepada masyarakat dan nelayan untuk tetap hati-hati dan selalu waspada terhadap cuaca ekstrem, gelombang tinggi dan angin kencang," kata Mulia Renaldi, Senin (5/1).

Sumber: Bangka Pos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved