Senin, 11 Mei 2026

Berita Bangka Selatan

Harga Sawit Masih di Bawah Target Apkasindo, Bangka Selatan Siapkan Tim Pengawas

Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan berencana membentuk tim khusus guna memantau aktivitas pengepul sawit di lapangan.

Tayang:
Dok Bangka Pos
Petani mengumpulkan tanda buah segar (TBS) kelapa sawit yang baru selesai dipanen. 

TOBOALI, BABEL NEWS - Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan berencana membentuk tim khusus guna memantau aktivitas pengepul sawit di lapangan. Pengawasan tersebut dilakukan setelah sebelumnya pemerintah daerah memberikan pembinaan kepada para pemilik delivery order (DO) di Bangka Selatan

Langkah itu diambil agar harga pembelian sawit di tingkat desa tetap berada dalam batas kewajaran dan tidak merugikan petani. "Kami nanti membentuk tim juga untuk memantau para pengepul, jadi saat ini sudah ke pemilik DO dan nanti ke pengepul," ujar Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Bangka Selatan, Risvandika, Sabtu (9/5).

Seperti diketahui, harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit tingkat petani di Kabupaten Bangka Selatan hingga kini masih berada di bawah target yang diharapkan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo). Per 7 Mei 2026, harga TBS di tingkat petani tercatat berkisar Rp2.650 hingga Rp2.750 per kilogram atau belum mencapai target Rp2.800 per kilogram. 

Risvandika mengatakan, pemerintah daerah bersama Apkasindo sebelumnya berupaya mendorong harga sawit petani agar dapat mencapai Rp2.800 per kilogram. Namun, hingga saat ini harga yang diterima petani masih berada di kisaran Rp2.650 sampai Rp2.750 per kilogram. 

Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor dalam rantai distribusi sawit dari petani menuju pabrik kelapa sawit. Ia menjelaskan, biaya operasional menjadi faktor yang mempengaruhi perbedaan harga di tingkat petani. Terdapat petani yang menjual TBS dari lokasi cukup jauh menuju pengepul sehingga membutuhkan tambahan biaya angkut. 

Selain ongkos transportasi, biaya distribusi lain juga turut mempengaruhi harga jual sawit sebelum masuk ke pabrik kelapa sawit. Meski begitu pengepul maupun pemilik DO diminta tidak mengambil margin berlebihan yang dapat menekan harga petani.

Diakuinya, di sisi lain disparitas harga juga dipengaruhi oleh variasi kualitas buah yang dikirim ke pabrik. Standar umur dan grade buah sebenarnya telah ditentukan, namun tidak selalu dipatuhi di lapangan. Hal ini menyebabkan harga yang terbentuk tidak sesuai dengan ketentuan. Persaingan bisnis di tingkat pengepul turut memperburuk kondisi tersebut.

Banyak pengepul yang tetap menerima buah dengan kualitas rendah demi mempertahankan pasokan. Padahal, buah yang tidak memenuhi standar seharusnya tidak diperjualbelikan. Ia menegaskan buah dengan berat di bawah tiga kilogram dan belum matang seharusnya tidak dipanen. Standar ini penting untuk menjaga kualitas serta nilai jual hasil panen petani. "Jika kualitas buah terjaga, harga TBS diyakini akan mengikuti ketentuan pemerintah," sebutnya.

Risvandika memastikan, pengawasan terhadap pengepul akan dilakukan hingga ke tingkat desa dengan melibatkan para pemilik DO. Pemerintah daerah berharap para pemilik DO dapat memberikan informasi yang transparan terkait harga pembelian sawit dari petani. Dengan pengawasan langsung tersebut, tata niaga sawit di Bangka Selatan diharapkan menjadi lebih terbuka dan berpihak kepada petani.

"Kami akan mengawasi pengepul di desa-desa bersama pemilik DO supaya mereka memberi informasi terkait harga yang dibeli kepada petani," ucap Risvandika(u1)

Rendemen CPO Masih Anjlok
RENDEMEN crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah yang dihasilkan dari perkebunan rakyat di Kabupaten Bangka Selatan saat ini masih tergolong rendah dibanding sejumlah daerah lain di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pemerintah daerah mencatat rendemen CPO sawit petani baru berada di bawah kisaran 20 persen, jauh dari target ideal hingga 24 persen. 

Rendahnya kualitas buah sawit, tingkat kematangan panen hingga penggunaan bibit yang tidak sesuai menjadi faktor utama penyebab rendahnya produksi minyak sawit. Kondisi tersebut membuat harga TBS masih rendah, pemerintah daerah kini berupaya meningkatkan pembinaan kepada petani dari tingkat hulu hingga hilir.

Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Bangka Selatan, Risvandika mengatakan, pendataan kualitas rendemen sawit dilakukan secara rutin sebanyak dua kali setiap bulan bersama pemerintah provinsi dan pihak pabrik kelapa sawit. Data tersebut dikumpulkan dari seluruh pabrik sawit yang beroperasi di Bangka Selatan untuk memantau kualitas produksi minyak sawit di daerah itu. 

Hasil evaluasi menunjukkan kualitas rendemen CPO sawit Bangka Selatan masih lebih rendah dibandingkan kabupaten maupun provinsi lain. "Saat ini kualitas kita cukup agak rendah dibanding kabupaten maupun provinsi yang lain," ujar Risvandika, Sabtu (9/5).

Risvandika menjelaskan, pemerintah daerah menargetkan kualitas rendemen CPO sawit petani dapat meningkat hingga mencapai 23 sampai 24 persen. Namun, saat ini angka rendemen yang dihasilkan masih berada pada posisi 17 hingga 19 persen sehingga dinilai belum optimal. Rendahnya rendemen tersebut dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kualitas buah, tingkat kematangan hingga kebersihan tandan buah segar (TBS). (u1)

Sumber: Bangka Pos
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved