Berita Pangkalpinang

Pengaruhi Perekonomian, BKKBN Babel Tangani Stunting dari Hulu Hingga Hilir

Kepala Perwakilan BKKBN Babel, Fazar Supriadi Sentosa mengatakan, penanganan stunting penting menjadi perhatian sebab berkaitan juga dengan ekonomi.

istimewa
20210914-ilustrasi-anak-stunting-dengan-anak-tumbuh-normal 

PANGKALPINANG, BABEL NEWS - Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tengah mengejar target penurunan stunting di wilayahnya pada tahun 2022 ini. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021, prevalensi stunting di Babel mencapai 18,6 persen. Sedangkan di tahun 2022 ini, ditargetkan angka stunting kembali turun menjadi 15,76 persen.

Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Babel, Fazar Supriadi Sentosa mengatakan, penanganan stunting penting menjadi perhatian sebab berkaitan juga dengan ekonomi. Pasalnya, stunting ini juga bisa menghambat pertumbuhan ekonomi.

"Orang Bangka sebenarnya tidak miskin-miskin amat, kalau makan sehari dua kali itu masih bisa. Tetapi yang miskin juga akan berpengaruh terhadap stunting, karena kekurangan gizinya," ujar Fazar dalam Forum Koordinasi Jurnalis Tingkat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang digelar di Kantor BKKBN, Senin (30/5).

Namun tak hanya mengenai itu, dia mengakui, kadang kala ada orangtua yang mampu untuk memenuhi gizi, namun anaknya yang enggan karena alasan tertentu. "Kalau itu artinya kembali lagi selain asupan gizi, pola asuh juga perlu menjadi perhatian, karena pola asuh berpengaruh juga akan stunting," katanya.

Diakuinya, untuk mengatasi hal ini, perlu penanganan dari hulu hingga hilir dalam menekan angka stunting di Babel. "Ini mulai mau menikah, setelah menikah dan setelah melahirkan, perhatikan juga panjang dan berat bayi lahir, kalau di bawah ketentuan, khawatir akan berisiko stunting, sehingga harus diperbaiki," jelasnya.

Ia mengatakan, penanganan hulu stunting dari pendekatan intervensi yang dimulai sejak remaja, calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, anak usia 0-59 bulan. "Hulu dan hilir memang harus diperhatikan, setelah anak lahir juga harus diperhatikan asupan gizi anaknya," katanya.

Menurutnya, agar genjotan penanganan stunting ini bisa terealisasi sesuai harapan, BKKBN juga menjalin kerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama. "Kita sosialisasikan juga kepada anak tingkat SMP hingga perguruan tinggi, misalnya tentang pernikahan dini yang harus dihindari, karena pernikahan dini dapat mengakibatkan stunting," tegasnya.

Banyak faktor
Dokter Spesialis Gizi Klinik di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Depati Hamzah Pangkalpinang, dr Adinda mengatakan, stunting dapat disebabkan akibat nutrisi yang tidak memadai dan serangan infeksi berulang selama 1.000 hari pertama kehidupan seorang anak. Stunting juga disebabkan oleh banyak faktor seperti kondisi sosial ekonomi dan gizi ibu saat hamil.

"Apabila kita menemukan anak dengan stunting harus segera dilakukan penatalaksanaan gizinya. Tatalaksana pemberian gizi pada stunting diberikan berdasarkan penyebab stunting dan juga kondisi dari masing-masing anak tersebut," ujar Adinda, beberapa waktu lalu.

Secara umum gizi pada anak stunting mencakup makronutisi dan mikronutrisi (vitamin dan mineral) harus dicukupi kebutuhan masing-masing zat gizi tersebut. Dalam asupan sehari-hari harus lengkap baik dari karbohidrat, protein dan lemak. Vitamin dan mineral juga memiliki peran penting untuk proses tumbuh kembang anak.

"Apabila menemui kasus stunting untuk segera dibawa ke Dokter Spesialis Anak agar dapat dilakukan pemeriksaan dan penatalaksanaan yang lebih lanjut. Kalo stunting agak kompleks, biasanya dihitung dulu masing-masing kebutuhan anak berdasarkan penyebab terus juga dari berat badan, tinggi badan atau panjang badan. Nanti kalau sudah ketemu kebutuhan kalori nya baru dimasukkan ke pola makan sehari-hari," jelasnya. (s2)

NEWS ANALYSIS
Suhardi, Dosen STIE Pertiba Pangkalpinang

Perlu Keseriusan
STUNTING menjadi permasalahan pembangunan, khususnya yang dihadapi negara berkembang. Dalam pandangan ekonomi, kelalaian dalam pengelolaan stunting berimbas pada tergadainya nasib bangsa dalam jangka panjang.

Beberapa studi menyimpulkan adanya stunting dapat menghambat pertumbuhan ekonomi, menurunkan produktivitas pasar kerja, meningkatkan potensi kemiskinan serta memperlebar ketimpangan. Hal ini karena sumber daya manusia merupakan modal dasar suatu negara dalam membangun perekonomiannya.

Bagi suatu negara, SDM yang berkualitas berfungsi dalam mentransformasi sumber daya ekonomi menjadi produk dan jasa yang mampu menghasilkan pendapatan dan devisa bagi suatu negara. Karena dengan stunting tingkat pertumbuhan dan kecerdasan anak tidak maksimal, sehingga menjadikan anak lebih rentan terhadap penyakit dan di masa dewasanya berisiko dalam menurunnya tingkat produktivitas.

Sumber: Bangka Pos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved