Jumat, 5 Juni 2026

Kabar Belitung

Dilema Pemerintah Kabupaten Belitung Menangani ODGJ

Banyak Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Belitung kembali menggelandang setelah menyelesaikan rehabilitasi medis selama dua tahun.

Tayang:
Editor: Rusaidah
Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari
EVAKUASI ODGJ - Evakuasi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang dilakukan oleh tim pelaksana kesehatan jiwa masyarakat di Kecamatan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (24/4/2025). 

TANJUNGPANDAN, BABEL NEWS - Di sebuah rumah terbengkalai di Jalan Ahmad Yani, Tanjungpandan, tim gabungan dari Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Satpol PP, Bhabinsa dan Kades Aik Rayak menemukan Santo, pria dengan gangguan jiwa (ODGJ), dalam kondisi memprihatinkan, Kamis (24/4).

Pakaian lusuh, tubuh tak terurus dan aroma menyengat, semua menjadi saksi bisu tentang kerasnya hidup bagi mereka yang tak bisa melawan realitasnya sendiri.

Namun di balik tampilan luar itu, Santo tak menunjukkan sikap agresif sedikit pun saat dijemput.

Ia masih bisa diajak berbicara, menjawab pertanyaan dan mengikuti arahan.

Tak jauh berbeda, sang ibu yang ditemukan di perempatan Jalan Pemuda juga dalam kondisi serupa.

Sama-sama tenang, ia pun langsung masuk ke ambulans Puskesmas Perawas tanpa perlawanan.

Keduanya kemudian dibawa ke Ruang Kembilik RSUD Marsidi Judono. Keduanya seakan sudah hafal betul apa yang harus dilakukan.

Saat masuk ruang perawatan, mereka mandi sendiri, lalu mengenakan pakaian yang dibawa perawat. Semua dilakukan sendiri tanpa bantuan.

Fisik boleh bersih, tapi penanganan terhadap mereka bukanlah perkara secepat mencuci pakaian kotor. Tetapi jauh lebih dalam dan rumit.

Santo bukan wajah baru dalam daftar ODGJ di Belitung. Dua tahun lamanya ia pernah direhabilitasi sosial di UPT Panti Bina Laras Dinas Sosial dan PMD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di Belitung Timur.

Di sana, ia sempat membaik, bahkan aktif berkebun. Tapi harapan itu sirna ketika ia dikembalikan ke keluarga dan perlahan kondisinya kembali menurun.

"Kami kesulitan mengawasi terus-menerus. Kadang jam tiga atau empat pagi dia keluar rumah tanpa kami tahu. Kami kan tidur," ujar Alek, keluarga Santo.

Menurut Mukromi, Kabid Rehabilitasi, Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Belitung, kondisi ini menggambarkan betapa rentannya proses pemulihan ODGJ tanpa dukungan penuh dari sistem yang berkelanjutan.

"Gangguan jiwa bukan seperti penyakit fisik yang sembuh total. Butuh kontrol terus-menerus melalui obat dan dukungan keluarga," jelasnya.

Sayangnya, hingga kini Belitung belum memiliki tempat penampungan permanen bagi ODGJ.

Sumber: Bangka Pos
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved